kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.358   4,00   0,02%
  • IDX 6.957   -144,42   -2,03%
  • KOMPAS100 936   -21,42   -2,24%
  • LQ45 669   -14,80   -2,16%
  • ISSI 251   -4,43   -1,74%
  • IDX30 373   -6,79   -1,79%
  • IDXHIDIV20 458   -7,34   -1,58%
  • IDX80 105   -2,51   -2,34%
  • IDXV30 134   -2,24   -1,64%
  • IDXQ30 119   -2,51   -2,07%

Kecelakaan KRL di Bekasi Timur, Ini Alasan Kereta Tak Bisa Berhenti Mendadak


Sabtu, 02 Mei 2026 / 04:20 WIB
Kecelakaan KRL di Bekasi Timur, Ini Alasan Kereta Tak Bisa Berhenti Mendadak
ILUSTRASI. Kecelakaan kereta di Bekasi memicu pertanyaan. Ternyata, berat 600 ton dan sistem rem udara membuat kereta mustahil berhenti mendadak. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) kembali menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat mengenai cara kerja kereta api, terutama terkait sistem pengereman.

Insiden tersebut melibatkan dua rangkaian KRL Commuter Line serta kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan yang sering muncul setiap kali kecelakaan kereta terjadi, yakni mengapa kereta api tidak bisa berhenti secara mendadak seperti kendaraan bermotor.

Mengutip penjelasan di indonesiabaik.id, secara fisik, kereta api memiliki ukuran dan bobot yang sangat besar. Di Indonesia, satu rangkaian kereta penumpang umumnya terdiri dari 8 hingga 12 gerbong dengan berat total yang dapat mencapai sekitar 600 ton.

Dengan bobot sebesar itu, energi yang harus dihentikan saat kereta melaju juga sangat besar. Akibatnya, jarak yang dibutuhkan untuk pengereman menjadi jauh lebih panjang dibandingkan mobil atau sepeda motor.

Baca Juga: Lengkap! Ini Harga LPG ukuran 5,5 kg dan 12 kg per 1 Mei 2026 di Seluruh Indonesia

Selain faktor bobot, sistem pengereman kereta juga berbeda dengan kendaraan jalan raya. Kereta api umumnya menggunakan sistem rem udara yang bekerja secara bertahap dari satu bagian ke bagian lainnya dalam rangkaian.

"Proses pengereman yang tidak merata dapat memicu risiko serius, seperti tergelincirnya roda, gerbong keluar jalur, hingga terguling. Karena itu, pengereman harus dilakukan secara terkontrol agar rangkaian berhenti dengan aman," demikian penjelasan indonesiabaik.id.

Kereta memang memiliki rem darurat. Namun, penggunaan rem darurat pun tidak membuat kereta langsung berhenti seketika. Rem ini bekerja dengan meningkatkan tekanan udara untuk mempercepat perlambatan, tetapi tetap membutuhkan jarak tertentu sebelum rangkaian benar-benar berhenti total.

Tonton: B50 Jalan, Solar Menumpuk! Indonesia Malah Kebanjiran BBM?

Dengan kata lain, meskipun teknologi pengereman terus berkembang, karakteristik kereta api yang berat dan panjang membuat kendaraan ini tidak memungkinkan untuk berhenti mendadak dalam jarak pendek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

×