Ekonomi

Kawasan Industri Kendal (KIK) memiliki 66 investor dengan investasi Rp 19,2 triliun

Rabu, 07 April 2021 | 10:10 WIB   Reporter: Amalia Nur Fitri
Kawasan Industri Kendal (KIK) memiliki 66 investor dengan investasi Rp 19,2 triliun

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. President Director and CEO Kawasan Industri Kendal (KIK), Stanley Ang mengungkapkan hingga saat ini, Kendal Industrial Park sudah memiliki 66 investor dengan capaian investasi sebesar Rp 19,2 triliun.

"Sebanyak 49% investor berasal dari Indonesia, 40% didominasi dari China, Taiwan, dan sisanya dari Singapura, Hongkong, Korea Selatan, serta Malaysia," jelasnya pada saat acara Media Gathering yang berlangsung di Menara Batavia, Jakarta, Selasa (6/4).

Kawasan Industri Kendal sendiri merupakan sebuah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) seluas 2.200 hektar berkonsep klaster yang terjalin atas joint venture Sembcorp Development Ltd dari Singapura dan PT Jababeka Tbk (KIJA).

Dalam proyek strategis nasional ini, KIJA memegang saham sebesar 51% dan sisanya, 49% dimiliki oleh Sembcorp. Lebih lanjut, Sembcorp Development juga merupakan perusahaan terbuka di Singapura yang berada di bawah payung Temasek.

Lebih lanjut, Juliani Kusumaningrum, Head of Sales and Marketing KIK menyatakan saat ini pihaknya telah mengembangkan fase I atau sebanyak 45% lahan yang ada. "Saat ini kami berada dalam fase I yakni mengembangkan 1.000 hektar lahan dan hingga kini okupansinya sekitar 45%. Proyeksi kami, lahan akan selesai dikembangkan pada 2026 mendatang," jelasnya.

Baca Juga: Bupati Kendal minta Wamendag membantu meningkatkan ekonomi di wilayahnya

Hingga saat ini juga sudah ada 66 penyewa, adapun tenant paling banyak dari sektor industri fesyen, elektronik, dan kemasan. Sedangkan dari total 66 penyewa tersebut, sebanyak 16 penyewa sudah memulai operasionalnya.

Sebanyak 10 penyewa lainnya masih menjalani tahapan konstruksi. Juliani mengatakan, dari komposisi tersebut, sebesar 90% berorientasi ekspor. Secara keseluruhan KIK sendiri membidik 6 sektor industri, yakni industri mamin, furnitur, fesyen, otomotif, elektronik, dan lain-lain, yang merangkap industri turunan dari 5 sektor tersebut, seperti logistik hingga pengemasan.

Juliani mengatakan, target marketing sales tahun ini diharapkan bertumbuh sekitar 4,5% sampai dengan 5% dari tahun lalu. Adapun tahun lalu, Juliani mengatakan pihaknya mencatat kinerja cukup bagus dengan memenuhi 80% dari target marketing sales yang ditetapkan. Namun pihaknya juga tidak memberikan detail besarannya.

Stanley menambahkan, tahun ini optimis dalam pengembangan proyek tersebut. Ia berharap keadaan perekonomian akan pulih tahun ini dengan adanya vaksin COVID-19. Dengan demikian, pihaknya bisa menuai pertumbuhan paling minimal 4,5%hingga 5%.

Sementara itu, mengenai harga lahan yang ditawarkan, pihaknya tidak memberikan detail lebih jauh. Stanley mengatakan jika harga yang ditawarkan oleh pihaknya saat ini cukup kompetitif. "Kami di sini tidak mencari penjualan lahan sebagai yang utama, tetapi bagaimana kontribusi ke bangsa dan daerah. Kami fokuskan tahun ini membangun ekosistemnya dengan baik dulu di sana," tutup dia.

Selanjutnya: Begini strategi Jababeka (KIJA) jaga keberlangsungan bisnis pada tahun ini

 

Editor: Handoyo .
Terbaru