Jika Harga BBM Naik, Ongkos Produksi Manufaktur Bisa Ikut Terkatrol

Jumat, 02 September 2022 | 05:55 WIB   Reporter: Dendi Siswanto
Jika Harga BBM Naik, Ongkos Produksi Manufaktur Bisa Ikut Terkatrol


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor manufaktur Indonesia kembali meraih momentum pertumbuhan pada bulan Agustus 2022 yang didorong oleh kondisi ekonomi dan permintaan yang membaik.

Berdasarkan data terkini Purchasing Managers's Index (PMI) dari S&P Global, pada periode Agustus 2022, PMI Manufaktur Indonesia berada di angka 51,7 atau lebih tinggi jika dibandingkan pada bulan sebelumnya yang berada pada angka 51,3.

Data PMI yang berada di atas 50,0 menunjukkan bahwa kondisi pengoperasian di seluruh sektor manufaktur Indonesia telah membaik pada setiap bulannya dalam 12 bulan terakhir. Meskipun tergolong sedang, tingkat perbaikan merupakan yang terkuat dalam empat bulan.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky mengatakan, apabila pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, maka hal tersebut akan membuat ongkos produksi juga akan terkerek naik dikarenakan biaya transportasi juga akan mengalami kenaikan akibat kebijakan tersebut.

Baca Juga: Bila Harga BBM Bersubsidi Naik, Inflasi Inti Akan Ikut Terkerek

"Apabila ada kenaikan harga BBM, ongkos produksi nampaknya akan naik karena biaya transportasi juga akan naik," ujar Riefky kepada Kontan.co.id, Kamis (1/9).

Menurutnya, hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap profitabilitas dari sektor manufaktur dan akan memberikan tekanan pada produksi. Namun seberapa besar tekanannya, Riefky bilang, akan bergantung dari besaran kenaikan harga BBM.

Meski PMI Manufaktur Indonesia naik di angka 51,7, Riefky menyebut, sektor manufaktur masih akan menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah pada daya beli masyarakat yang akan sangat berpengaruh terhadap demand (permintaan) terhadap produk manufaktur.

"Ini akan bervariasi tergantung dari produknya," katanya.

Sementara di jangka panjang, Ia menuturkan, sektor manufaktur juga masih akan menghadapi tantangan untuk peningkatan nilai tambah, sehingga hal ini membutuhkan investasi serta hilirisasi yang lebih masif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru