ISSP mengincar pertumbuhan penjualan hingga 30% pada tahun depan

Rabu, 01 Desember 2021 | 08:10 WIB   Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
ISSP mengincar pertumbuhan penjualan hingga 30% pada tahun depan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) mengincar pertumbuhan penjualan hingga 30% pada tahun depan. Emiten dengan nama beken Spindo ini melihat percepatan pembangunan dan ekspektasi berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional bakal menjadi katalis positif pada 2022.

Wakil Direktur Utama ISSP Tedja Sukmana Hudianto mengungkapkan, Spindo tengah menjalankan sejumlah strategi untuk bisa menjaga pertumbuhan kinerja. Pertama, Spindo terus berupaya mengembangkan pasar di wilayah-wilayah potensial. Adapun saat ini, Pulau Jawa masih menjadi market terbesar.

Menurut Tedja, di tengah tren harga komoditas yang melambung ditambah maraknya investasi di bidang pertambangan dan hilirisasi, telah membuat wilayah Sulawesi dan Kalimantan berkembang pesat. Bersama dengan Indonesia bagian timur, Spindo melihat wilayah tersebut menjadi semakin prospektif. 

"Misalnya di Sulawesi Tengah, Morowali, Halmahera, kami melihat daerah-daerah ini punya potensi yang cukup besar. Posisi logistik kami juga cukup kuat untuk men-support Indonesia bagian timur," kata Tedja dalam acara "Corporate Action", Selasa (30/11).

Baca Juga: Laba bersih Spindo (ISSP) meroket 801,21% hingga kuartal III

Strategi kedua, Spindo meneruskan strategi efisiensi termasuk dengan memakai teknologi-teknologi terbaru. Berbarengan dengan itu, Spindo akan mengembangkan depo atau gudang di sejumlah wilayah. Dengan begitu, pengiriman produk kepada konsumen ditargetkan bisa lebih cepat dan efisien.

"Kami harapkan kalau ada gudang, kami bisa melayani dengan lebih bagus lagi. Ini untuk mengurangi kesulitan jarak kalau ada customer yang ingin pengiriman cepat," sambung Tedja.

Ketiga, Spindo pun bakal mengoptimalkan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang sales dan marketing sebagai representatif di sejumlah daerah. Hal ini dirasa penting untuk mengembangkan pasar serta menjangkau lebih banyak konsumen dalam waktu yang lebih singkat.

Strategi ini juga untuk mengantisipasi adanya pembatasan mobilitas saat kasus covid-19 melonjak, yang mana ada hambatan untuk aktivitas keluar-masuk suatu wilayah. "Sehingga meski ada pandemi, mereka tetap bisa bergerak, bisnis tetap jalan," ujar Tedja.

Strategi keempat, Spindo akan terus melakukan edukasi pasar mengenai standar kualitas pipa baja. Pasalnya, saat ini banyak produk pipa baja yang kualitasnya dipertanyakan di pasaran. Menurut Tedja, sejauh ini edukasi mengenai standar kualitas cukup berhasil mendongkrak penjualan Spindo.

"Dengan memperkenalkan kualitas yang lebih baik, kami melihat respon yang cukup bagus, terutama dari end user, mereka sangat senang. Jadi akan terus kami lakukan di daerah, agar semakin dipahami sebenarnya pipa yang bagus seperti apa," ujar Tedja.

Dihubungi terpisah, Corporate Secretary & Investor Relations ISSP Johannes W. Edward, menyampaikan bahwa untuk belanja modal (capex) tahun depan, sementara ini Spindo merencanakan anggaran sekitar Rp 50 miliar hingga Rp 70 miliar. Capex tersebut antara lain dialokasikan untuk penambahan mesin dalam peningkatan range produk stainless serta pengembangan gudang dan depo.

 

 

"Untuk gudang dan depo masih dalam tahap perencanaan, yang paling dekat adalah Makassar dan beberapa kantor perawakilan di Sumatera dan Bali," ujar Johannes saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (30/11).

Adapun untuk tahun ini Spindo menganggarkan capex sekitar Rp 50 miliar. Hingga kuartal ketiga, Johannes menyebut realisasinya masih sesuai rencana, dengan serapan sekitar 80%. Sebagian besar dipakai untuk keperluan maintenance dan improvement galva blow.

Hingga akhir tahun 2021, Spindo membidik penjualan senilai Rp 5 triliun dan laba di posisi sekitar Rp 590 miliar. Hingga periode Q3-2021, Spindo mencetak kinerja yang apik dengan raihan pendapatan senilai Rp 3,81 triliun, naik 40,4% dibandingkan Q3-2020.

Spindo sukses mencetak laba bersih senilai Rp 445,54 miliar per akhir kuartal III-2021. Jumlah ini meroket 801,21% dari laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 49,43 miliar.

ISSP pun akan menerbitkan surat utang senilai Rp 300 miliar dalam bentuk obligasi dan sukuk ijarah. "Untuk bonds sudah efektif per 26 November. Jadi mudah-mudahan bisa cair dengan lancar. Tahap I Rp 300 miliar, dan dipergunakan untuk modal kerja," pungkas Johannes.

Selanjutnya: Indonesia's AC Ventures closes $205 million fund

Editor: Handoyo .
Terbaru