kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45981,95   -5,95   -0.60%
  • EMAS1.164.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Investasi Sektor Manufaktur Berpotensi Meningkat Tahun Ini


Selasa, 14 Februari 2023 / 07:30 WIB
Investasi Sektor Manufaktur Berpotensi Meningkat Tahun Ini

Reporter: Siti Masitoh | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investasi di sektor manufaktur berpotensi mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu. Program hirilisasi yang gencar dilaksanakan pemerintah akan mendorong investasi di sektor tersebut.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan optimisme tersebut sejalan dengan realisasi investasi tahun lalu. Investasi pada sektor industri di Tanah Air terus meningkat meski di tengah dinamika geopolitik dunia yang menyebabkan ketidakpastian ekonomi global.

Sepanjang tahun 2022, industri manufaktur meraup investasi senilai Rp 497,7 triliun atau meningkat 52% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Yusuf mengatakan, industri logam dasar menjadi salah satu industri yang menyumbang realisasi investasi terbesar di dalam negeri.

Baca Juga: Pemerintah Gencar Melakukan Hilirisasi, BI Ungkap Tantangannya

“Kita tahu bersama bahwa meningkatnya realisasi industri logam dasar tidak terlepas dari program hilirisasi yang dilakukan oleh pemerintah sehingga dengan masih berlanjutnya program hilirisasi terutama sterilisasi produk nikel, seharusnya investasi untuk sektor manufaktur di tahun ini  masih berpotensi  mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun lalu,” tutur Yusuf kepada Kontan.co.id, Senin (12/2).

Yusuf juga yakin, sejalan dengan program pemerintah yang tengah giat untuk mendorong produksi hirilisasi dari biji nikel, termasuk di dalamnya untuk bisa dikembangkan menjadi baterai mobil listrik.

Meski demikian, menurutnya akan ada tantangan dalam proses investasi di sektor manufaktur pada tahun ini, yakni pada pembiayaan investasi. Misalnya untuk produksi baterai listrik, smleter harus mempunyai teknologi yang cukup tinggi sehingga bisa memproduksi premium nikel yang nantinya menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik.

“Biaya yang dibutuhkan agar sebuah smelter dapat memproduksi bahan di atas berkisar 65.000 US$ per ton/nikel, atau 5 kali lebih besar dibandingkan produksi biji nikel standar,” kata Dia.

Tantangan yang akan dihadapi tidak sampai di situ, biji nikel yang kemudian diproses dengan teknologi tinggi, kata Yusuf  perlu diuji di lab sampai kemudian bisa diputuskan bisa mempunyai komposisi zat kimia yang cukup untuk memproduksi nikel yang dikategorikan sebagai premium nikel.

Baca Juga: Proyek Hilirisasi Tambang di Indonesia Terganjal Banyak Masalah

Untuk mendapatkan kualitas nikel yang premium tersebut tentunya  diperlukan biaya tambahan lagi untuk kemudian membangun lab dan dipergunakan dalam mengetes apakah nikel yang diproduksi nantinya sudah sesuai takaran untuk memproduksi baterai kendaraan listrik atau tidak.

“Sehingga Hal inilah yang kemudian perlu di mitigasi sebagai upaya untuk membangun ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri,” imbuh Yusuf. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×