Ini Strategi Pemerintah untuk Menekan Angka Kematian Covid-19 pada Kelompok Komorbid

Selasa, 22 Februari 2022 | 05:30 WIB   Reporter: Ratih Waseso
Ini Strategi Pemerintah untuk Menekan Angka Kematian Covid-19 pada Kelompok Komorbid


KONTAN.CO.ID - JAKARTA.Guna menekan kasus kematian pada pasien Covid-19 dengan komorbid, pemerintah melakukan interkoneksi data antara BPJS Kesehatan dengan data penambahan kasus di new all record (NAR) Kemenkes.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mayoritas kasus kematian pasien Covid-19 merupakan mereka yang belum divaksin lengkap atau belum divaksin sama sekali serta kelompok lansia dan komorbid.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut B Pandjaitan menjelaskan, pemerintah akan menekan angka kematian dengan memberikan respon perawatan yang lebih cepat kepada kelompok yang memiliki komorbid. Luhut menyebut, dengan respon tindakan yang lebih cepat lagi akan banyak menghindari kemungkinan kasus kematian.

"Oleh karena itu kami mendorong adanya interkoneksi data antara BPJS Kesehatan yang memiliki data komorbid dan data penambahan kasus di NAR Kemenkes, sehingga jika ada penambahan kasus langsung terdeteksi apakah orang tersebut komorbid atau tidak, dan respon tindakan bisa dilakukan secara cepat," jelasnya dalam konferensi pers virtual, Senin (21/2).

Baca Juga: UPDATE Corona Indonesia, 21 Februari: Tambah 34.418 Kasus, 176 Meninggal

Selain itu, pemerintah juga mendorong dan meminta bantuan kepada pemerintah daerah untuk terus aktif mensosialisasikan dan maksimalkan jumlah vaksin booster.

Bagi masyarakat yang sudah memiliki tiket vaksin ketiga, diminta untuk segera mengunjungi gerai vaksinasi untuk mendapatkan vaksinasi booster.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan melalui interkoneksi data di BPJS Kesehatan dengan data kasus Covid-19 di NAR Kemenkes, nantinya pasien terkonfirmasi positif dan memiliki komorbid akan langsung dirujuk untuk isolasi di rumah sakit.

"Kami sudah melakukan kerjasama dengan BPJS Kesehatan agar semua yang komorbid bisa kita identifikasi lebih dini. Jadi walaupun kasusnya ringan tapi bisa segera langsung masuk karpet merah di rumah sakit," jelas Budi.

Senada dengan Luhut, Budi juga mengingatkan masyarakat yang belum divaksin untuk segera divaksin, dan yang sudah sesegera mungkin mendapatkan vaksinasi lengkap baik dosis kedua atau booster.

"Sekali lagi kami mengulangi lagi terus menerus segera divaksin, vaksinnya juga harus lengkap minimal 2 kali dan kalau ada teman-teman kita yang lansia didorong agar segera bisa lebih cepat divaksin," paparnya.

Baca Juga: Ini Gejala Covid-19 Varian Alpha, Beta, Delta, Hingga Omicron, Ayo Kenali!

Per 20 Februari 2022 vaksinasi di Indonesia telah mencapai 189 juta dosis. Artinya sudah ada 70% penduduk Indonesia yang telah mendapatkan suntikan dosis pertama. Pemerintah terus mendorong agar cakupan vaksinasi dosis kedua juga mencapai 70% dari populasi.

Namun, Budi mengingatkan masih sedikit provinsi yang telah mencapai 70% cakupan vaksinasi dosis kedua. Kembali Budi menekankan kepada masyarakat untuk segera mendatangi Puskesmas ataupun gerai-gerai vaksinasi untuk mendapatkan vaksinasi lengkap.

"Saran kami jangan pilih-pilih [vaksin] yang ada sekarang langsung saja dipakai baik sebagai booster maupun juga sebagai vaksinasi primernya yang lengkap," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru