kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Ini hambatan-hambatan dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia


Selasa, 02 Maret 2021 / 10:50 WIB
Ini hambatan-hambatan dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia

Reporter: Filemon Agung | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya mendorong panas bumi demi memenuhi target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) menemui tantangan yang tidak mudah.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha mengungkapkan ada sejumlah hal yang selama ini diklasifikasikan sebagai hambatan dalam pengembangan panas bumi di Indonesia.

Satya menjelaskan, harga listrik dinilai menjadi hambatan pasalnya PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai solo off-taker tercatat meminta harga yang lebih murah dari yang diterapkan saat ini sebesar US$ 7 cent per kWh. "PLN minta (lebih) murah lagi. Dari sisi upstream (hulu) komponen biaya yang tinggi," kata Satya dalam diskusi virtual, Senin (1/3).

Baca Juga: Pembentukan holding panas bumi dinilai jadi strategi kejar target RUEN

Satya melanjutkan, dengan tantangan yang juga timbul dari sisi hulu, sejumlah pelaku industri meminta pemberlakuan kontrak mengadopsi skema cost recovery seperti di industri minyak dan gas bumi (migas).

Satya menjelaskan, hal ini menjadi masukan bagi pemerintah terlebih mengingat jumlah potensi yang mencapai 29 Giga Watt (GW) sementara pemanfaatan baru mencapai sekitar 2.130 Mega Watt (MW).

Tantangan lainnya yakni lokasi pengembangan panas bumi yang masuk dalam kawasan hutan lindung. Selain itu, Satya menambahkan perlu ada penjelasan kepada masyarakat terkait pengembangan panas bumi. Satya mengungkapkan pengembangan panas bumi juga kerap menemui penolakan dari masyarakat.

"Perlu satu pemahaman supaya tidak ada penolakan dari masyarakat. Ada daerah yang perlu kearifan lokal. Harus sosialisasikan ke masyarakat supaya acceptance tinggi," pungkas Satya. 

Selanjutnya: Menteri ESDM: Smart Grid penting dalam pengembangan kendaraan listrik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

×