kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.803.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.757   18,00   0,10%
  • IDX 6.206   44,30   0,72%
  • KOMPAS100 820   7,74   0,95%
  • LQ45 631   10,77   1,74%
  • ISSI 218   -0,22   -0,10%
  • IDX30 360   5,73   1,62%
  • IDXHIDIV20 447   9,71   2,22%
  • IDX80 95   0,97   1,04%
  • IDXV30 123   1,72   1,42%
  • IDXQ30 117   2,17   1,90%

Ini Dampak BI Rate 5,25% ke Industri Otomotif


Selasa, 26 Mei 2026 / 05:18 WIB
Ini Dampak BI Rate 5,25% ke Industri Otomotif
ILUSTRASI. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 5,25% mulai memberikan tekanan terhadap industri otomotif nasional. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 5,25% mulai memberikan tekanan terhadap industri otomotif nasional. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi minat pembelian kendaraan karena mayoritas transaksi mobil di Indonesia masih menggunakan fasilitas kredit.

Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy, mengatakan kenaikan bunga berpotensi meningkatkan besaran cicilan konsumen sehingga masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam membeli kendaraan.

“Dengan bunga yang lebih tinggi, cicilan konsumen juga dapat ikut meningkat sehingga masyarakat menjadi lebih selektif dalam mengambil keputusan pembelian kendaraan,” ujar Billy kepada Kontan, Senin (25/5/2026).

Meski begitu, Honda menilai kebutuhan mobilitas masyarakat masih cukup tinggi sehingga pasar otomotif tetap memiliki peluang tumbuh, walaupun persaingan industri diperkirakan semakin ketat.

Untuk menjaga penjualan, Honda mengandalkan strategi menghadirkan produk yang sesuai kebutuhan konsumen. Mulai dari kendaraan hemat bahan bakar, mobil harian yang nyaman, hingga model hybrid dan elektrifikasi.

Selain itu, Honda juga menawarkan berbagai program penjualan dan layanan purna jual guna menjaga daya tarik konsumen di tengah tekanan daya beli.

“Kami juga menghadirkan berbagai program penjualan dan layanan purna jual yang kompetitif untuk memberikan value lebih bagi konsumen, sekaligus memastikan pengalaman kepemilikan kendaraan Honda tetap mudah dan nyaman dalam jangka panjang,” jelas Billy.

Baca Juga: 1 Juni 2026 Apakah Libur Nasional? Ini Penjelasan Resmi SKB 3 Menteri

Namun, performa penjualan Honda masih mengalami tekanan. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, penjualan wholesales Honda sepanjang 2025 tercatat 56.500 unit atau turun 40,4% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 94.742 unit.

Sementara itu, penjualan retail Honda pada 2025 juga turun 30,9% secara tahunan menjadi 71.233 unit dari sebelumnya 103.023 unit pada 2024.

Tekanan penjualan berlanjut pada awal tahun ini. Selama Januari-April 2026, distribusi kendaraan Honda ke dealer hanya mencapai 15.893 unit atau turun 37,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 25.336 unit.

Adapun penjualan retail Honda pada empat bulan pertama 2026 tercatat 16.516 unit, merosot 43,5% dibandingkan Januari-April 2025 yang mencapai 29.215 unit.

Di sisi lain, Toyota Astra Motor (TAM) masih melihat prospek pasar otomotif nasional tetap positif seiring langkah pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.

Vice President TAM, Jap Ernando Demily, menilai kenaikan suku bunga acuan diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan kepercayaan pasar, serta mengendalikan tekanan inflasi.

“Dengan naiknya suku bunga acuan, diharapkan bisa menjaga stabilitas rupiah, menjaga kepercayaan pasar, serta mengendalikan potensi tekanan inflasi,” ujar Ernando kepada Kontan, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, Toyota masih memantau implementasi kebijakan suku bunga di sektor perbankan dan lembaga pembiayaan karena mayoritas pembelian kendaraan masih mengandalkan skema kredit.

Meski demikian, Toyota melihat pasar otomotif masih berada dalam tren positif. Hal itu tercermin dari penjualan wholesales Toyota pada April 2026 yang mencapai sekitar 25.000 unit atau naik 42% dibandingkan Maret 2026 di level 17.000 unit.

Tonton: Pertalite Mulai Langka, Tanda BBM Subsidi Akan Dihapus?

Untuk menjaga momentum penjualan, Toyota bersama jaringan dealer dan perusahaan pembiayaan menghadirkan berbagai paket pembelian yang lebih kompetitif. Program tersebut mencakup uang muka atau down payment (DP) rendah, tenor lebih panjang, skema cicilan fleksibel, hingga jaminan harga jual kembali untuk model hybrid seperti Toyota Veloz HEV.

“Kami bersama jaringan dealer dan partner financing terus berupaya menghadirkan paket pembelian yang kompetitif dan sesuai dengan kebutuhan konsumen,” jelas Jap.

Secara kumulatif, penjualan wholesales Toyota sepanjang Januari-April 2026 mencapai 86.000 unit. Sementara itu, hingga 24 Mei 2026, surat pemesanan kendaraan (SPK) Toyota secara nasional tercatat sekitar 19.000 unit. TAM berharap angka tersebut masih dapat meningkat hingga akhir bulan.

Tabel: Strategi Toyota dan Honda Hadapi BI Rate 5,25%

Perusahaan Strategi
Honda Fokus kendaraan hemat BBM, hybrid, elektrifikasi, program penjualan dan layanan purna jual
Toyota DP rendah, tenor panjang, cicilan fleksibel, program buyback hybrid

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

×