Ini Bahayanya Jika Suatu Negara Dilanda The Great Retirement

Senin, 12 September 2022 | 11:23 WIB Sumber: Reuters
Ini Bahayanya Jika Suatu Negara Dilanda The Great Retirement

ILUSTRASI. Lebih dari setahun setelah The Great Resignation terjadi di AS, kini, Kanada bergulat dengan The Great Retirement.


KONTAN.CO.ID - OTTAWA. Lebih dari setahun setelah The Great Resignation atau Pengunduran Diri Hebat terjadi di Amerika Serikat, kini, Kanada bergulat dengan The Great Retirement.

Melansir Reuters, angkatan kerja Kanada mengalami pertumbuhan pada bulan Agustus. Akan tetapi jika dibandingkan dengan dua bulan sebelumnya, angka tersebut mengalami penurunan dan tetap lebih kecil daripada sebelum musim panas. Hal ini disebabkan puluhan ribu orang berhenti bekerja di negara tersebut. Berdasarkan data Statistics Canada, banyak orang yang berhenti bekerja akibat pensiun.

Data Statscan juga menunjukkan, pensiun dilakukan bukan hanya oleh orang-orang yang berusia 65 tahun ke atas. Jumlah warga Kanada yang berusia 55-64 yang mengajukan pensiun juga menembus rekor dalam 12 bulan terakhir.

Para ekonom menilai, kondisi ini mempercepat eksodus massal pekerja paling terampil Kanada, sehingga membuat bisnis berebut angkatan kerja, mempercepat dorongan upah lebih tinggi dan mengancam untuk lebih menurunkan produktivitas negara yang merosot.

"Kami tahu sejak lama bahwa gelombang ini akan datang, bahwa kita akan memasuki momen ini," kata Jimmy Jean, kepala ekonom di Desjardins Group. "Dan itu akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang."

Dia menambahkan, "Risiko yang Anda miliki, dan di beberapa sektor sudah mengalaminya, adalah bahwa orang-orang pensiun tanpa ada cukup pekerja muda untuk mengambil alih. Sehingga terjadi hilangnya modal manusia dan pengetahuan."

Baca Juga: Diangkat Jadi Raja, Charles Hadapi Kondisi Ekonomi Inggris yang Suram

Selama pandemi, angka pensiun mengalami penurunan karena banyak warga Kanada memutuskan untuk tetap bekerja lebih lama. Dengan dicabutnya pembatasan, banyak yang bergegas untuk menebus waktu mereka yang hilang, memilih untuk bepergian dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.

Kepergian mereka menyusutkan angkatan kerja, yang dapat membebani pertumbuhan ekonomi pada saat bank sentral secara agresif menaikkan suku bunga untuk melawan lonjakan inflasi. Kondisi ini dikhawatirkan akan menyebabkan perekonomian Kanada jatuh ke dalam resesi.

Kanada memiliki populasi usia kerja terbesar, sebagai persentase dari populasi keseluruhan, di G7. Akan tetapi, pada saat yang sama, angkatan kerjanya merupakan usia tua. Satu dari lima pekerja di Kanada berusia 55 tahun atau lebih. 

Data Statscan menunjukkan, terdapat 307.000 warga Kanada pada bulan Agustus yang telah meninggalkan pekerjaan mereka untuk pensiun di beberapa titik pada tahun lalu. Angka tersebut naik 31,8% dari satu tahun sebelumnya dan 12,5% lebih tinggi dari pada Agustus 2019, sebelum timbulnya pandemi.

Menambah masalah, lebih dari 620.000 warga  Kanada memasuki kategori usia 65+ selama pandemi. Angka ini meningkat 9,7% dalam kelompok populasi itu. Meskipun tiga bulan berturut-turut kehilangan pekerjaan, lowongan pekerjaan dan penempatan tetap jauh di atas tingkat pra-pandemi.

Baca Juga: Jadi Mata Uang Perdagangan Komoditas, Rubel Berpotensi Menggerus Dolar AS

Krisis perawat dan sopir truk

Masalah pensiun terlihat cukup mengerikan di bidang tenaga terampil seperti perdagangan dan keperawatan. Sejak Mei, Kanada telah kehilangan 34.400 pekerja di bidang perawatan kesehatan. Bahkan jumlah perawat yang dilaporkan bekerja lembur menembus rekor tertingginya.

Menurut Cathryn Hoy, presiden Asosiasi Perawat Ontario, hal itu bukan akibat dari pemangkasan lapangan pekerjaan, melainkan banyak yang mengajukan pensiun.

"Ini masalah besar saat ini, karena kami memiliki begitu banyak yang pensiun secara tak terduga," katanya, mengutip pandemi, kondisi kerja, dan perselisihan upah dengan provinsi terbesar di Kanada.

Industri transportasi juga bergulat dengan kekurangan pekerja yang parah, baik karena hiruk-pikuk yang didorong oleh pandemi untuk lebih banyak barang dan seiring bertambahnya usia tenaga kerja.

"Semakin banyak pengemudi yang menua dan karena itu pensiun atau memikirkan gaya hidup yang berbeda," kata Tony Reeder, pemilik Trans-Canada College, sebuah perguruan tinggi karir yang melatih pengemudi truk pengangkut.

Baca Juga: Faisal Basri Sebut Negara Anggota G20 Raja Utang, Ini Buktinya

Pada saat yang sama, permintaan meningkat dari perusahaan truk, banyak di antaranya mengambil pengemudi pelajar untuk kursus pelatihan di tempat kerja dan kemudian mempekerjakan mereka segera setelah mereka memiliki lisensi penuh, kata Reeder.

"Tanpa truk dan orang yang mengemudikan truk ... barang akan disimpan di pelabuhan dan di gudang, bukan sampai ke tujuan di mana mereka dapat dikonsumsi," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru