kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Ini alasan S&P pangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini


Kamis, 29 Juli 2021 / 09:20 WIB
Ini alasan S&P pangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini

Reporter: Bidara Pink | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Sejumlah lembaga internasional sudah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Terbaru adalah lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) yang memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2021 hanya 3,4%. 

Sebelumnya, S&P memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 4,4% di tahun 2021. 

“Peningkatan angka kasus harian Covid-19 ini memberatkan roda pemulihan ekonomi Indonesia. Apalagi, pemerintah akhirnya memutuskan adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM),” kata S&P seperti dikutip Kontan.co.id, Rabu (28/7). 

S&P menjelaskan, dengan adanya pembatasan sosial yang dilaksanakan selama satu bulan, akan menurunkan mobilitas hingga 30%. Mobilitas masyarakat akan pulih secara gradual ke 5% di bawah normal pada akhir Oktober 2021. 

Baca Juga: ADB pangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2021 menjadi 4,1%

Hal ini nantinya akan menekan daya beli masyarakat dan menurunkan permintaan masyarakat. Padahal, seperti yang diketahui, motor penggerak perekonomian Indonesia adalah konsumsi rumah tangga. 

Kabar baiknya, Indonesia tetap bisa mengejar potensi pertumbuhan ekonomi dari kinerja ekspor. Ini menangkap momentum adanya perbaikan ekonomi global dan peningkatan permintaan dari beberapa negara mitra dagang. 

Namun, bila pembatasan aktivitas dilakukan hingga lebih dari sebulan, atau katakanlah sekitar dua bulan, maka pertumbuhan mobilitas akan turun 30% selama dua bulan dan akan pulih lebih lama ke 5% di bawah normal pada akhir Januari 2022. 

Bila hal ini terjadi, S&P melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 akan tumbuh lebih rendah, yaitu sebesar 2,3%.

Selanjutnya: UPDATE Corona Indonesia, Rabu (28/7): Tambah 47.791 kasus baru, jangan kendor prokes

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

×