Inggris berpisah dengan Uni Eropa, ikatan Britania Raya turut merenggang

Jumat, 01 Januari 2021 | 18:05 WIB Sumber: Reuters
Inggris berpisah dengan Uni Eropa, ikatan Britania Raya turut merenggang

KONTAN.CO.ID -  LONDON. Inggris mengucapkan selamat tinggal kepada Uni Eropa pada Kamis (31/12/2020) setelah hubungan 48 tahun yang menggelora. Para pengamat menilai, masa depan Inggris pasca-Brexit yang tidak pasti dalam pergeseran geopolitik paling signifikan sejak hilangnya kerajaan.

Brexit secara resmi terjadi pada tengah malam di Brussel, atau 23.00 waktu London jelang tahun baru. Inggris mengakhiri keanggotaan de facto, yang dikenal sebagai periode transisi, yang berlangsung 11 bulan setelah secara resmi mundur dari keanggotaan 27 negara Uni Eropa pada Januari. 31.

Selama lima tahun, hiruk pikuk krisis Brexit mendominasi permasalahan Eropa, mengguncang mata uang poundsterling dan menodai reputasi Inggris sebagai pilar kepercayaan stabilitas ekonomi dan politik Barat.

Para pendukung menganggap Brexit sebagai awal dari Inggris global yang baru merdeka. Tapi, perceraian ini melemahkan ikatan antara Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara yang memiliki total ekonomi US$ 3 triliun.

"Kami memiliki kebebasan di tangan kami dan terserah kami untuk memanfaatkannya sebaik mungkin," ujar Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dalam pesan malam tahun baru. Saat para pemimpin Uni Eropa dan warga negara mengucapkan selamat tinggal, Johnson mengatakan bahwa Inggris akan tetap menjadi peradaban Eropa klasik.

Baca Juga: AS: China hanyalah kediktatoran yang rapuh, takut pada rakyatnya sendiri

BRITANIA RAYA?

Setelah Britania Raya meninggalkan Single Market atau Customs Union, hampir pasti akan ada gangguan di perbatasan. Lebih banyak birokrasi berarti lebih banyak biaya bagi mereka yang mengimpor dan mengekspor barang melintasi perbatasan UE-Inggris.

Setelah tawar-menawar kesepakatan perdagangan selama berbulan-bulan, pemerintah Inggris menerbitkan 70 halaman studi kasus hanya beberapa jam sebelum perpisahan. Inggris menebar informasi perusahaan-perusahaan tentang aturan apa yang harus mereka ikuti di perbatasan Inggris-UE yang baru.

Port of Dover memperkirakan volume ekspor impor turun di awal Januari. Periode paling mengkhawatirkan akan terjadi pada pertengahan hingga akhir Januari ketika volume meningkat lagi.

Setelah Brexit resmi terjadi, dukungan untuk kemerdekaan Skotlandia meningkat. Sebagian karena Brexit dan sebagian karena Covid-19, mengancam persatuan politik berusia 300 tahun antara Inggris dan Skotlandia.

Pemimpin Skotlandia Nicola Sturgeon mengatakan, referendum kemerdekaan harus dilakukan pada bagian awal masa jabatan parlemen berikutnya, yang dimulai tahun depan. "Skotlandia akan segera kembali, Eropa," kata Sturgeon.

Baca Juga: Jokowi: Indonesia mengamankan vaksin Sinovac, Novavax, AstraZeneca, dan BioNTech

 

BREXIT

Pada referendum 23 Juni 2016, sebanyak 17,4 juta pemilih, atau 52%, mendukung Brexit sementara 16,1 juta, atau 48%, mendukung tetap di blok tersebut. Hanya sedikit yang berubah pikiran sejak itu. Inggris dan Wales memilih keluar tetapi Skotlandia dan Irlandia Utara ikut serta.

Referendum menunjukkan Inggris terbagi lebih dari sekadar tetap di Uni Eropa atau keluar. Referendum ini memicu pencarian tentang segala hal mulai dari pemisahan diri dan imigrasi hingga kapitalisme, serta warisan kekaisaran.

Inggris bergabung pada tahun 1973 dan dua dekade lalu para pemimpin Inggris sedang berdebat tentang apakah akan bergabung dengan euro. Hingga kini, Inggris tidak bergabung menggunakan mata uang euro dalam Zona Euro.

Gejolak krisis zona euro, upaya untuk mengintegrasikan UE lebih jauh, kekhawatiran tentang imigrasi massal dan ketidakpuasan dengan para pemimpin di London membantu para pendukung Brexit memenangkan referendum dengan pesan harapan patriotik.

"Kami melihat masa depan global untuk diri kami sendiri," kata Johnson yang memenangkan kekuasaan pada 2019. Johnson meraih perjanjian perceraian Brexit dan kesepakatan perdagangan, serta mayoritas Konservatif terbesar sejak Margaret Thatcher dalam pemilu 2019.

Para pendukung melihat Brexit sebagai pelarian dari proyek Prancis-Jerman yang mandek sementara Amerika Serikat dan China melonjak. Para penentang Brexit mengatakan, Brexit akan melemahkan Barat, semakin mengurangi pengaruh global Inggris, membuat orang lebih miskin dan mengurangi kosmopolitanismenya.

Baca Juga: Vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech disahkan WHO untuk penggunaan darurat

Editor: Wahyu T.Rahmawati
Terbaru