Inflasi 2022 Diproyeksikan 2,75%-3,25%, Ini 3 Pemicunya

Jumat, 14 Januari 2022 | 07:10 WIB   Reporter: Siti Masitoh
Inflasi 2022 Diproyeksikan 2,75%-3,25%, Ini 3 Pemicunya

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan inflasi akan mengalami peningkatan sekitar 2,75%-3,25% di 2022, dari sebelumnya sebesar 1,87% di tahun 2021.

Menurutnya, peningkatan inflasi didorong oleh rencana penyesuaian subsidi, kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), serta kenaikan inflasi natural dikarenakan pemulihan permintaan konsumen.

“Kenaikan inflasi yang didorong oleh kenaikan PPN serta penyesuaian subsidi diperkirakan mendorong perlambatan permintaan, terutama pada kuartal II 2022 mendatang,” tutur Josua kepada Kontan.co.id, Kamis (13/1).

Baca Juga: Chatib Basri Ungkap Pandemi Covid-19 Beri Pelajaran ke Banyak Negara

Penyebab inflasi lainnya, seperti harga komoditas, baik komoditas bahan pangan ataupun  komoditas energi, yang menurutnya akan cenderung berkurang dampaknya terhadap inflasi, seiring dengan proyeksi harga komoditas global.

Tingginya bahan pangan di November 2021 dan Desember 2021 sendiri berakar dari sifat bahan pangan yang cenderung langka di musim penghujan, sehingga harga akan kembali normal setelah musim hujan selesai.

Oleh karena itu, Josua memperkirakan diperkirakan inflasi akan meningkat, dan berdampak negatif secara terbatas pada perekonomian, meskipun lebih terbatas.

Sementara itu di kuartal IV 2021 sendiri terlihat bahwa daya beli masyarakat cenderung membaik, bila dibandingkan dengan kuartal III 2021.

Pemulihan ini juga tidak lepas dari pelonggaran aktivitas ekonomi, setelah kasus Covid-19 mulai berkurang, dan pemerintah mulai secara gradual melonggarkan PPKM. Jika dibandingkan dengan akhir kuartal III 2021, IKK pada 4Q21 meningkat hingga 23 poin ke level 118,3.

Selain dari sisi Indikator Kinerja Kegiatan (IKK), pemulihan daya beli konsumen juga dapat tercermin dari peningkatan pembelian mobil, yang selama kuartal IV 2021 tercatat naik menjadi 260k unit dari sebelumnya sebesar 234k di kuartal III 2021.

Sedangkan dari sisi penjualan ritel, tercatat indeks penjualan ritel tumbuh 9,19% qoq di kuartal IV 2021 dari sebelumnya terkontraksi 4,54% qoq di kuartal III 2021.

Dari indikator-indikator tersebut, Josua memperkirakan bahwa pertumbuhan dari konsumsi rumah tangga di kuartal IV 2021 akan meningkat menjadi 3,5% yoy, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal III 2021 yang hanya sebesar 1,03%yoy.

Baca Juga: Kadin Bangun Dialog dengan Serikat Buruh untuk Membahas Kesejahteraan Buruh

Sementara itu, di tahun 2022, diperkirakan laju pertumbuhan konsumsi akan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2021, sejalan dengan proyeksi bahwa aktivitas ekonomi akan kembali mendekati level sebelum pandemi, dengan asumsi tidak ada peningkatan kasus Covid-19 yang signifikan.

“Namun, di sisi lain, kenaikan PPN dan pengurang subsidi energi diperkirakan cenderung membatasi pemulihan daya beli masyarakat di tahun 2022. Kami perkirakan pertumbuhan rumah tangga di tahun 2022 akan berkisar pada 4,5-5%,” imbuh Josua.

Selanjutnya: Fenomena Astronomi Hari Ini (14 Januari 2022): Nadir Ka'bah Hingga Retrogad Merkurius

Editor: Yudho Winarto
Tag
Terbaru