INDY menargetkan komposisi bisnis batubara dan non-batubara bisa 50:50 di tahun 2025

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 21:00 WIB   Reporter: Arfyana Citra Rahayu
INDY menargetkan komposisi bisnis batubara dan non-batubara bisa 50:50 di tahun 2025

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indika Energy Tbk (INDY) mulai melakukan transformasi bisnis sejak tiga tahun yang lalu untuk menciptakan bisnis yang tidak hanya stabil, tetapi juga berkelanjutan. Salah satu bentuk transformasi yang dilakukan  Indika adalah masuk ke Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). 

Indika menargetkan pada 2025 mendatang komposisi bisnis batubara dan non-batubara bisa seimbang atau 50:50. Adapun sampai pada akhir 2020, sektor batubara masih menyumbang 75% ke pendapatan INDY secara konsolidasi. 

Vice President Director and Group CEO Indika Energy, Azis Armand memaparkan, di tahun lalu tantangan yang dihadapi industri batubara adalah fluktuasi harga komoditas yang mempengaruhi naik turunnya kinerja, operasional, hingga keuangan. Maka dari itu, INDY melakukan inisiatif yang berkaitan dengan stabilisasi kinerja operasi dan keuangan. 

"Namun, saat masuk ke inisiatif stabilisasi itu, sampailah kita pada satu titik di mana stabil saja tidak cukup, tetapi juga harus berkelanjutan," jelasnya dalam webinar bertajuk "Pengembangan PLTS untuk Kemerdekaan Negeri" pada Kamis (26/8). 

Lantas, untuk mendukung terwujudnya bisnis yang berkelanjutan, Azis mengungkapkan, INDY mendiversifikasi portofolio melalui dua upaya. 

Baca Juga: Indika Energy (INDY) teken kerjasama bangun PLTS di kawasan pelabuhan Sabang

Pertama, investasi ke sektor non-batubara dan mendivestasi aset-aset perusahaan yang bergerak di sektor batubara.  Tiga tahun belakangan, INDY banyak berinvestasi ke sejumlah sektor non-batubara mulai dari tambang emas, logistik, infrastruktur, hingga ke bidang energi terbarukan. Kedua, dekarbonisasi operasional baik melalui inisiatif efisiensi dan terapan teknologi. 

Melalui upaya ini, INDY berambisi untuk mencapai net zero emission di tahun 2050 mendatang. "Harapannya target ini bisa tercapai melalui perubahan portofolio aset INDY dan dekarbonisasi di anak-anak usaha yang nantinya akan berkontribusi terhadap energi low emission secara konsolidasi," tegasnya. 

Sejalan dengan target tersebut, INDY semakin gencar menjajaki sektor energi bersih. Di awal 2021, pihaknya mendirikan  perusahaan patungan atau joint venture (JV) dengan pengembang PLTS di India atau dikenal dengan nama Fourth Partner Energy (4PEL) yang sudah mengembangkan 550 MW PLTS. 

 

 

Perusahaan hasil JV itu bernama Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS). Azis berharap, perusahaan patungan ini bisa mengembangkan atau mencoba jadi bagian dalam pengembangan PLTS di Indonesia. 

Azis melihat potensi PLTS di Indonesia sangat besar karena memiliki ekosistem tertentu. Maka dari itu, INDY melalui EMITS dan anak usaha lainnya antusias untuk menjadi bagian dari ekosistem solar PV di Indonesia. 

Di awal 2021, EMITS sudah memasang solar farm di Kideco Campsite, Kalimantan Timur. Awalnya surya panel ini untuk pilot project yang kemudian lanjut ke beberapa proyek di wilayah pertambangan. Dengan dipasangnya solar panel berkapasitas 409 kilo watt peak (KWP) ini, dapat menghemat pemakaian diesel hingga 132.755 liter per tahun atau setara dengan 373,8 ton CO2eq. 

Selain itu, EMITS juga berkolaborasi dengan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) untuk memasang PLTS atap di Pelabuhan Sabang. 

Selanjutnya: Divestasi Saham MBSS, Indika Energy (INDY) Rugi Hingga US$ 126,47 Juta

 

Editor: Handoyo .
Terbaru