Indonesia akan gunakan strategi ofensif menghadapi black campaign soal kelapa sawit

Minggu, 07 Februari 2021 | 09:25 WIB   Reporter: Vendy Yhulia Susanto
Indonesia akan gunakan strategi ofensif menghadapi black campaign soal kelapa sawit

ILUSTRASI.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia akan melakukan strategi atau pendekatan ofensif terkait kampanye hitam (black campaign) terhadap produk kelapa sawit.

“Selama ini strategi yang kita lakukan dalam rangka black campaign terhadap produk sawit ini selalu sifatnya defensif, sehingga kalau hal ini kita lakukan terus menerus ini tidak akan menang. Karena itu kita ke depan harus merubah strategi dengan secara ofensif. Kita attack seperti yang disampaikan bapak presiden,” kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Abdurrachman dalam diskusi virtual, Sabtu (6/2).

Eddy mengatakan, komoditas sawit tidak luput dari serangan dan ancaman kampanye hitam sebagai dampak dari kompetisi negara penghasil minyak nabati. Beberapa isu yang sering dijadikan bahan kampanye hitam diantaranya isu kesehatan dan kolesterol, degradasi lingkungan dan polusi, orang utan dan biodiversity, isu gambut dan kebakaran hutan, deforestasi dan pekerja di bawah umur.

“Sektor sawit bukan penyebab deforestasi, perkebunan sawit justru mengisi tanah terlantar akibat praktek perambahan hutan sehingga dapat dikatakan sawit justru melakukan penghijauan kembali,” ujar dia.

Baca Juga: BPDPKS proyeksikan permintaan ekspor CPO mencapai 27,36 juta metrik ton pada 2021

Selain itu, lanjut Eddy, pengusahaan dan penggunaan sawit mendukung sustanaible development goals (SDG’s). Diantaranya, industri sawit menciptakan lapangan kerja terutama di daerah pedesaan. Mendukung ketahanan energi melalui penggunaan energi terbarukan, mereduksi karbon melalui fotosintesis pada kebun kelapa sawit dan penggunaan sebagai bahan bakar nabati.

“Kebun sawit menyediakan tempat hidup aneka ragam hayati baik flora dan fauna,” ujar dia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, tantangan yang dihadapi dalam kompetisi perdagangan minyak nabati saat ini bukan hanya berusaha untuk meningkatkan diterimanya sertifikat perkebunan kelapa sawit berkelanjutan (Indonesian Sustainable Palm Oil Certification System/ISPO) di negara konsumen. Namun juga harus melakukan kampanye balasan (counter campaign) yang dilakukan oleh negara – negara yang tidak suka atau sebagai pesaing palm oil secara masif yang dimotori oleh beberapa negara di Uni Eropa.

“Pemerintah dan berbagai stakeholder kelapa sawit telah melakukan berbagai upaya (seperti) diplomasi, advokasi, positif campaign atau counter (campaign) terhadap berbagai negative campaign yang ditujukan kelapa sawit dimana Indonesia pada dasarnya menyatakan counter campaign terhadap posisi Indonesia tersebut tidak berdasar sama sekali,” kata Airlangga.

Selanjutnya: BPDPKS proyeksi produksi CPO tahun ini mencapai 52,3 juta ton

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru