Indeks manufaktur bisa tetap membaik hingga akhir tahun, kata ekonom

Minggu, 03 Oktober 2021 | 06:27 WIB   Reporter: Bidara Pink
Indeks manufaktur bisa tetap membaik hingga akhir tahun, kata ekonom

ILUSTRASI. Penggunaan teknologi robotik pada fasilitas produksi komponen milik Dharma Group.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja manufaktur Indonesia kembali ekspansif. Itu ditunjukkan oleh Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali berada di atas 50 pada bulan September 2021.

IHS Markit mencatat, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2021 sebesar 52,2, atau naik dari level 43,7 pada bulan sebelumnya. 

Koreksi pada indeks manufaktur sebelumnya terjadi karena gelombang kedua Covid-19 menekan pertumbuhan pada awal kuartal III 2021.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira pun optimistis, kinerja manufaktur hingga akhir tahun 2021 tetap berada dalam zona ekspansif.

“Pada kuartal IV 2021 manufaktur bisa melanjutkan ekspansi, tetapi tidak akan naik terlalu tinggi,” tegas Bhima kepada Kontan.co.id, Jumat (1/10). 

Bhima mengatakan, peningkatan kinerja manufaktur pada tiga bulan terakhir tahun ini didorong oleh faktor seasonal, yaitu adanya momen Natal dan Tahun Baru yang biasanya ada kenaikan permintaan. 

Baca Juga: Kinerja mentereng di semester I 2021, cermati rekomendasi saham Aneka Tambang (ANTM)

Kenaikan permintaan ini mulai diantisipasi dengan peningkatan kapasitas produksi di beberapa sektor manufaktur sejak periode Oktober 2021 hingga November 2021.

Hanya saja, Bhima mengingatkan masih ada beberapa risiko yang dihadapi oleh sektor manufaktur, seperti adanya krisis energi di China maupun Inggris

Selain itu, ada penutupan pabrik-pabrik di beberapa negara karena kurang pasokan energi, sehingga akan berdampak pada permintaan barang hasil industri manufaktur Indonesia. 

Plus, hingga saat ini masih ada masalah terkait kekurangan kontainer logistik, sehingga bisa mengganggu rantai pasok bahan baku untuk industri manufaktur. 

Untuk itu, Bhima menyarankan agar industri manufaktur lebih agile atau responsif dalam memproyeksi perubahan permintaan dengan manajemen stok yang lebih baik. 

Kemudian, bagi manufaktur berorientasi ekspor, maka disarankan konsisten untuk melakukan diversifikasi pasar, atau mencari negara-negara alternatif, serta meningkatkan daya saing produk dan efisiensi operasional dengan adaptasi teknologi digital. 

Selanjutnya: Beri jalan ke sang anak, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mundur dari politik

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hasbi Maulana

Terbaru