Imbal Hasil Unitlink Mulai Merangkak Naik Memasuki Kuartal III-2022

Senin, 08 Agustus 2022 | 08:15 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Imbal Hasil Unitlink Mulai Merangkak Naik Memasuki Kuartal III-2022


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah bulan sebelumnya mengalami tekanan, memasuki kuartal III-2022 ini, imbal hasil unitlink mulai merangkak naik. Meskipun secara year-to-date (ytd), imbal hasilnya masih di area negatif.

Dari semua fund unitlink, imbal hasil unitlink saham di Juli 2022 tercatat mengalami pertumbuhan paling besar dibandingkan dengan yang lain, dengan tumbuh 1,48% secara bulanan, berdasarkan data Infovesta. Sayangnya, jika dilihat secara ytd, imbal hasil unitlink saham terkoreksi paling dalam 1,79% ytd.

Sementara itu, imbal hasil unitlink pendapatan tetap juga mengalami kenaikan di Juli 2022 sebesar 0,68% secara bulanan. Namun, sama dengan yang berbasis saham, unitlink pendapatan tetap masih terkoreksi 1,11% secara ytd.

Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan imbal hasil unitlink saham yang mulai membaik ini disebabkan oleh IHSG yang juga membaik ditambah kondisi pandemi Covid-19 yang masih terkontrol.

Baca Juga: Industri Asuransi Jiwa Gencar Mengelola Investasi

Sementara itu, dampak Bank Indonesia yang juga menahan suku bunga, di tengah tren kenaikan suku bunga global. Sebagai informasi, saat ini suku bunga BI masih berada di level 3,5% dan masih terendah sepanjang mas.

“Itupun didukung dari sisi fundamental seperti neraca perdagangan yang surplus sehingga itu bisa digunakan untuk subsidi, jadi terkendali,” ujar Wawan kepada KONTAN, akhir pekan ini.

Untuk unitlink berbasis obligasi, Wawan pun melihat ada dampak dari pendapatan kupon yang mulai masuk di kuartal III ini. Sehingga, ada optimisme instrumen pendapatan tetap masih menarik hingga akhir tahun.

Meski demikian, Wawan masih memproyeksikan unitlink berbasis saham memiliki imbal hasil yang lebih tinggi. Sebab, laporan keuangan beberapa emiten di semester I masih menunjukkan hasil positif.

“Tapi mungkin yang pendapatan tetap tidak setinggi yang diharapkan, kan tadinya kita ekspektasinya 6% hingga 7% di akhir tahun, mungkin tinggal 3% hingga 4%, tapi itu sudah relatif baik di saat suku bunga trennya naik,” imbuhnya.

Baca Juga: Sejumlah Korban Unitlink Sudah Mendapat Refund

Meskipun demikian, Wawan tetap menyarankan untuk masuk ke unitlink perlu diversifikasi baik itu berbasis saham maupun pendapatan tetap. Misaknya, ditentukan dengan jangka waktu dari jatuh temponya.

“Misalnya kalau di atas 5 tahun ya masuk ke saham, kalau berbasis pendapatan tetap sekitar 3 tahun. Secara overall risiko untuk rugi kecil kalau seperti itu,” ujarnya.

Dari sisi pemain, Direktur Keuangan BNI Life Eben Eser Nainggolan bilang unitlink pendapatan tetap dan pasar uang menjadi yang diminati nasabah saat ini. Meskipun, unitlink jenis saham di BNI Life m masih mendominasi sekitar 65% dari total portfolio unitlink.

“Nasabah mungkin sudah banyak yang paham investasi sehingga produk unitlink menjadi alternative pilihan untuk mendapatkan asuransi sambil berinvestasi,” ujar Eben.

Tak bisa dipungkiri, produk unitlink pendapatan tetap BNI Life memang masih mampu memberikan imbal hasil di atas rata-rata. Misalnya, produk Dana Mantap 6 yang memberikan imbal hasil 6,62% secara ytd  dan Dana Mantap 10 yang memberikan imbal hasil di 10,59% secara ytd, berdasakan data Infovesta.

Baca Juga: Jumlah Klaim Pembatalan Polis Menurun

Eben menambahkan bahwa saat ini kinerja unitlink di BNI Life masih stabil hingga Juli 2022 dengan pendapatan premi kurang lebih Rp 800 miliar dan memberikan kontribusi sebesar 27% dari total pendapatan premi.

“Sampai dengan bulan Juli 2022 jumlah pemegang polis unitlink (inforce) lebih dari 104 ribu polis,” ujar Eben.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru