Hippindo Optimistis Kinerja Sektor Ritel di Pusat Perbelanjaan Moncer Ketika Ramadan

Jumat, 25 Maret 2022 | 07:05 WIB   Reporter: Dimas Andi
Hippindo Optimistis Kinerja Sektor Ritel di Pusat Perbelanjaan Moncer Ketika Ramadan


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) optimistis penjualan di sektor ritel bisa mengalami peningkatan ketika momen bulan Ramadan tiba.

Ketua Umum Hippindo Budiharjo Iduansjah menyampaikan, momentum Ramadan di tahun 2022 seharusnya bisa mendatangkan peruntungan yang lebih baik bagi para pelaku usaha ritel di pusat perbelanjaan.

Sebab, tren kasus Covid-19 di Indonesia sedang menurun. Pemerintah pun sudah melonggarkan kebijakan PPKM di berbagai wilayah Tanah Air, sehingga masyarakat lebih leluasa untuk bermobilisasi.

Kondisi ini berbeda dengan Ramadan tahun lalu tatkala para pelaku usaha ritel lebih banyak melakukan penjualan secara online dan dianggap kurang optimal untuk mengatrol kinerja. “Kenaikan penjualan ritel di Ramadan kali ini bisa 2—3 kali lipat dibandingkan tahun lalu. Harapannya bisa sama dengan penjualan di tahun 2019,” ungkap dia, Kamis (24/3).

Baca Juga: Hippindo: Penjualan di Ritel Modern pada Idul Fitri Bisa Naik Hingga 2 Kali Lipat

Budiharjo menjelaskan, jika diperhatikan sebenarnya penjualan ritel di pusat perbelanjaan sudah memperlihatkan tren peningkatan secara bertahap sejak tahun lalu. Kinerja di sektor ini baru tersendat lagi ketika varian Omicron merebak di Indonesia pada Februari lalu.

Dia juga menilai, kinerja sektor ritel fashion cenderung bergerak lebih lambat bila dibandingkan kinerja para pemain makanan-minuman. Namun, ia yakin kedua sektor ini bisa tumbuh lebih optimal dengan memanfaatkan momentum Ramadan nanti.

Lebih lanjut, Hippindo juga akan memulai sosialisasi kebijakan kenaikan PPN menjadi 11% kepada para anggotanya. Kebijakan ini tentu akan mengerek harga sejumlah produk ritel mulai awal April nanti.

Baca Juga: APPBI Optimistis Pusat Perbelanjaan Berangsur Pulih pada Paruh Kedua 2022

Harapan Hippindo, pemerintah tetap bisa memberikan bantuan atau stimulus kepada masyarakat kelas bawah supaya daya belinya terjaga. Ini mengingat pemerintah punya potensi meraup pendapatan lebih dari kenaikan 1% atas PPN. Kinerja sektor ritel pun cukup bergantung pada daya beli masyarakat.

“Pemerintah dapat kenaikan pendapatan melalui pajak dari sektor produksi. Kami berharap, ini bisa dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk stimulus,” pungkas Budiharjo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru