Harga pangan ini masih tinggi meski lebaran telah usai

Jumat, 21 Mei 2021 | 05:55 WIB   Reporter: Lidya Yuniartha
Harga pangan ini masih tinggi meski lebaran telah usai

KONTAN.CO.ID -   JAKARTA. Seminggu setelah lebaran, beberapa harga pangan masih tercatat cukup tinggi. Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan ada beberapa bahan pangan yang masih tinggi tersebut seperti daging sapi, minyak goreng hingga gula.

"Yang selalu jadi isu itu harga daging sapi, ini yang jadi isu nasional. Beberapa komoditas yang masih tinggi itu minyak goreng, bawang merah, daging ayam, juga gula pasir," ujar Abdullah kepada Kontan, Kamis (20/5).

Menurut Abdullah, di Jakarta, harga daging sapi masih berkisar Rp 137.000 hingga Rp 140.000 per kg. Harga daging sapi di Jabodetabek menurutnya paling tinggi karena barangnya yang kurang dan distribusinya yang masih kurang baik.

Dia melanjutkan,, harga minyak goreng di Jakarta sudah hampir mencapai Rp 15.000 per kg, daging ayam sekitar Rp 40.000 per kg, gula pasir berkisar Rp 13.000 hingga Rp 14.000, dan bawang merah juga turut mengalami kenaikan. Cabai rawit merah pun masih cukup tinggi, tetapi Abdullah memproyeksi harga cabai rawit akan normal Juni mendatang.

Baca Juga: Berpotensi turun mutu, Bulog minta penyaluran 413.000 ton beras diprioritaskan

Sementara, bila dilihat dari data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), per Kamis (20/5) harga rata-rata daging sapi kualitas I sekitar Rp 129.000 per kg, daging ayam sekitar Rp 38.200 per kg, bawang merah sekitar Rp 33.350 per kg, minyak goreng curah Rp 14.350 per kg, gula pasir lokal Rp 13.350 per kg, cabai rawit merah sekitar Rp 62,950 per kg.

Khusus di wilayah DKI Jakarta, dari data PIHPS, harga daging sapi kualitas I mencapai Rp 153.350 per kg, daging ayam Rp 39.000 per kg, bawang merah Rp 37.500 per kg, cabai rawit merah Rp 62.500 per kg, minyak goreng curah Rp 16.000 per kg, dan gula pasir lokal Rp 14.000 per kg.

Adapun, Abdullah mengatakan bahwa saat ini merupakan fase ketiga kenaikan harga selama bulan Ramadan, Menurut Abdullah, fase ketiga ini adalah dimana masyarakat mulai mencari komoditas pangan setelah masa liburan berakhir, dan distribusinya tidak seimbang.

"Pasca Ramadan itu banyak komoditas yang memang sudah tidak ada stoknya di pasar, artinya harus memulai lagi stok yang baru. Ini sesungguhnya yang menjadi problem tidak sinkronnya supply dan demand sehingga harganya tinggi," kata Abdullah.

Baca Juga: Sambut Lebaran, Wamendag harap dukungan untuk pemulihan kesehatan dan ekonomi

Meski begitu, Abdullah pun mengatakan biasanya seminggu setelah Ramadan harga bahan pangan seharusnya sudah mulai normal. Dia pun tak mengetahui penyebab mengapa harga beberapa komoditas masih bertahan tinggi.

Melihat beberapa komoditas pangan masih tinggi, Abdullah pun meminta agar pemerintah lebih serius dalam menata manajemen tata niaga pangan, menjaga distribusi pangan dan memperbaiki data pangan.

Selanjutnya: Harga kedelai global naik, Kemendag: Harga tahu tempe berpotensi naik

 

Editor: Noverius Laoli
Terbaru