Fitch Ratings Pertahankan Peringkat Utang Indonesia, Ini Kata Ekonom

Kamis, 30 Juni 2022 | 06:35 WIB   Reporter: Bidara Pink
Fitch Ratings Pertahankan Peringkat Utang Indonesia, Ini Kata Ekonom


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB atau layak investasi (investment grade) dengan outlook stabil. Ini jadi kabar gembira bagi perekonomian Indonesia.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, langkah Fitch Ratings dalam mempertahankan peringkat utang Indonesia dan outlook tidak lepas dari kondisi perekonomian Indonesia yang memang mumpuni.

“Langkah ini tidak lepas dari kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia yang masih mencatatkan surplus di tahun berjalan 2022, serta pertumbuhan ekonomi yang masih solid,” tutur Josua kepada Kontan.co.id, Rabu (29/6).

Dia menambahkan, Fitch Ratings masih optimistis akan prospek neraca transaksi berjalan yang mencatat hanya defisit kecil pada tahun 2022, yaitu sekitar 0,4% produk domestik bruto (PDB), serta proporsi kepemilikan surat berharga negara (SBN) oleh asing yang rendah.

Baca Juga: Fitch Ratings Optimistis Inflasi Tahun 2022 Masih Dalam Kisaran Sasaran BI

“Dipersepsikan, merupakan progres yang baik oleh Fitch, sehingga peringkat dan outlook Indonesia masih solid id tengah tekanan inflasi,” tambah Josua.

Meski begitu, Josua mengingatkan bahwa Fitch Ratings menyoroti tingginya subsidi energi yang digelontorkan oleh pemerintah serta rasio pendapatan terhadap pengeluaran bunga yang masih rendah.

Dengan demikian, Josua menyarankan agar pemerintah berkomitmen tinggi terkait pertumbuhan dan realisasi penerimaan negara, dengan harapan indikator tersebut bisa mendekati titik tengah negara-negara sebaya dengan peringkat BBB, sehingga peringkat utang masih dipertahankan oleh lembaga-lembaga pemeringkat.

Nah, terkait peluang peningkatan peringkat utang Indonesia, sebenarnya Josua tidak menutup kemungkinan akan hal ini. Namun, ia mengingatkan perlunya pertumbuhan ekonomi yang solid serta realisasi penerimaan negara yang lebih tinggi.

Hal ini agar risiko perekonomian Indonesia secara perlahan kemudian mengalami penurunan dan bisa menjadi nilai tambah di mata lembaga-lembaga pemeringkat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru