kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Faisal Basri: Indonesia Bisa Terjerat Jebakan Negara Kelas Menengah


Sabtu, 07 Januari 2023 / 08:45 WIB

Reporter: Bidara Pink | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom Senior INDEF Faisal Basri mengungkapkan, Indonesia memiliki peluang tak bisa lepas dari jerat negara kelas menengah (middle income trap). 

Faisal mengungkapkan, ini bisa terjadi bila kinerja pemerintah tidak maksimal karena terikat dengan kepentingan politik. 

"Ini hasil dari proses politik yang makin lama makin buruk. Ini menghasilkan kinerja ekonomi yang kian lama kian melemah. Pertumbuhan terus melambat sampai sekarang," tutur Faisal dalam diskusi publik, Kamis (5/1). 

Selain itu, asa Indonesia untuk menjadi negara maju di 2045 tak terwujud, bisa disebabkan oleh proses menciptakan nilai tambah yang tidak maksimal. 

Baca Juga: Faisal Basri Sebut Kualitas Investasi Indonesia Kurang, Ini Alasannya

"Saat ini kebanyakan Indonesia pohon ditebang, langsung jual. Komoditas pertambangan, dikeruk langsung jual. Tidak ada nilai tambah," tambahnya. 

Sebenarnya, bila menilik tren rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia dari era 1970-an, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia makin menurun. Ia menghimpun data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan menunjukkan, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun 2020 hingga 2022 hanya sekitar 5% YoY. 

Ini lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan pada tahun 2004 hingga 2018 yang sebesar 6% YoY. Pun lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan dari tahun 1988 hingga 1997 yang 7% YoY, dan rata-rata pertumbuhan tahun 1976 hingga 1983 yang sebesar 8% YoY. 

Tren perlambatan pertumbuhan ekonomi ini tentu memengaruhi rata-rata tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia, yang disorot dari pendapatan per kapita.

Faisal mengutip data Bank Dunia yang menunjukkan pendapatan per kapita Indonesia pada tahun 2021 di bawah US$ 5.000 atau di bawah negara-negara sebaya seperti Malaysia, Thailand, China, dan Korea Selatan. 

Baca Juga: Ekonom Berharap Industri Manufaktur Bisa Jadi Tumpuan Perekonomian Indonesia

Faisal khawatir, bila hal ini dibiarkan terus menerus, Indonesia akan terjebak di jebakan negara kelas menengah. Sehingga asa Indonesia untuk menjadi negara maju di 2045 akan tersendat. 

"Bila bisnis dan perekonomian berjalan terus seperti sekarang, maka middle income trap tidak akan terhindarkan. Harus ada perubahan," tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

×