kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Ekspor Mebel dan Kerajinan Ditargetkan Mencapai US$ 5 Miliar pada 2024


Jumat, 10 Maret 2023 / 06:45 WIB
Ekspor Mebel dan Kerajinan Ditargetkan Mencapai US$ 5 Miliar pada 2024

Reporter: Filemon Agung | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah memastikan siap mendukung target industri mebel dan kerajinan untuk mengejar nilai ekspor hingga US$ 5 miliar pada 2024 mendatang.

Menteri Kordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bilang salah satu bentuk dukungan yang akan disiapkan yakni terkait pendanaan.

Airlangga menyampaikan, pemerintah akan meminta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) membuat roadmap untuk mendukung realisasi ekspor senilai US$ 5 miliar.

“Secara craftmanship Indonesia sudah unggul, dari ketersediaan bahan baku kita juga tersedia dan sumber daya manusia juga siap. Secara potensi kita lebih unggul dan ini harus terus didorong supaya dapat bersaing dengan negara-negara lain,” ujar Airlangga saat membuka gelaran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2023.

Baca Juga: HIMKI Siapkan Strategi Mengejar Target Ekspor US$ 5 Miliar

Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menyatakan sektor pembiayaan menjadi salah satu aspek penting untuk mendorong realisasi target US$ 5 miliar.

Saat ini sudah ada 54 anggota HIMKI yang mendapat bantuan pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). 

“Kami berharap nilai pinjaman dan cakupannya bisa ditingkatkan agar bisa menjangkau seluruh anggota HIMKI,” kata Abdul.

Abdul menambahkan, pengembangan desain sebagai nilai tambah dari produk juga dibutuhkan. 

Baca Juga: HIMKI Proyeksikan Transaksi di IFEX 2023 Capai US$ 700 Juta

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Promosi dan Pemasaran HIMKI Djudjuk Aryati mengungkapkan, demi menjaga pangsa pasar yang ada, pihaknya juga mendorong peningkatan produk-produk yang berkelanjutan. Hal ini dinilai dapat menjadi nilai tambah termasuk untuk memenuhi tuntutan pasar eropa terkait Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

"Ini penting untuk industri meminimalkan penggunaan material semacam itu (merusak lingkungan), didukung dengan mesin-mesin yang lebih update juga untuk membantu kuantitas bisa terkejar dan harga terjangkau," ungkap Djudjuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×