kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45950,37   4,93   0.52%
  • EMAS1.107.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Ekonomi digital di Indonesia tumbuh subur


Jumat, 12 Maret 2021 / 10:10 WIB
Ekonomi digital di Indonesia tumbuh subur

Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan pada tahun lalu ekonomi digital Indonesia tumbuh double digit. Lebih tinggi dari Malaysia dan Singapura, di kawasan ASEAN hanya kalah dari Vietnam yang mampu tumbuh 16%.

Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Bima Laga mengamini suburnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Indikasinya terlihat dari terdigitalisasinya pemenuhan kebutuhan masyarakat sehari-hari, termasuk pengobatan dan pembelajaran.

Indikasi lainnya, tambah Bima, terlihat saat gelaran Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2020 yang diselenggarakan di bawah koordinasi idEA. Bima membeberkan, pertumbuhan penjualan di Pulau Jawa meroket hingga 97%, sementara untuk luar Jawa tumbuh 17%.

"Ini baru satu program, sementara program sejenis sepanjang 2020 cukup banyak, ada 9/9, 10/10, 11/11, misalnya. Semua program ini diyakini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi digital dari sisi e-commerce bisa sangat cepat," terang Bima kepada Kontan.co.id, Kamis (11/3).

Baca Juga: Penyaluran pinjaman fintech di e-commerce masih minim

Pengembangan ekonomi digital sangat potensial seiring dengan jumlah pengguna internet yang meningkat. Selain itu, program pemerintah seperti Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia juga mendorong lebih dari 4 juta pelaku usaha untuk on-boarding di platform e-commerce.

Menurut Bima, hal itu berperan penting lantaran sektor dagang online itu masih menjadi penopang utama ekonomi digital. "Pada dasarnya semua sektor mengalami pertumbuhan, namun yang paling besar masih dari marketplace yang memang cakupan konsumennya lebih luas," jelas Bima.

Dari 230 anggota idEA, 46% bergerak di bidang usaha online retail e-commerce. 17% merupakan marketplace, 9% di bidang infrastruktur e-commerce, 6% payment, 5% travel, 5% logistik, 5% classified ads., 2% bank, 2% daily deals, 2% supporting, dan 1% directory. 

Dihubungi terpisah, peneliti Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia Taufiq Nur menyampaikan, pembatasan mobilitas saat pandemi covid-19 telah mengubah gaya hidup masyarakat. Ekonomi digital pun menjadi pilihan. Apalagi Indonesia, terutama Jabodetabek menjadi customer based yang paling besar dibandingkan negara ASEAN lainnya.



TERBARU

×