Ekonom prediksi neraca perdagangan pada September 2021 masih surplus

Jumat, 15 Oktober 2021 | 06:15 WIB   Reporter: Bidara Pink
Ekonom prediksi neraca perdagangan pada September 2021 masih surplus


KONTAN.CO.ID -   JAKARTA. Peneliti Danareksa Research Institute (DRI) memperkirakan, neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mencetak surplus US$ 3,68 miliar. 

Meski surplus, Senior Researcher DRI Muhammad Ikbal Iskandar melihat surplusnya lebih kecil dari surplus pada Agustus 2021 yang mencapai US$ 4,74 miliar. 

Muhammad kemudian mengatakan, surplus neraca perdagangan pada bulan laporan didorong oleh masih lebih tingginya nilai ekspor bila dibandingkan dengan nilai impor, meski ada penurunan kinerja ekspor pada September 2021 secara bulanan. 

Lembaga tersebut memperkirakan, nilai ekspor September 2021 sebesar US$ 19,28 miliar atau turun 10,02% mtm, tetapi secara tahunan masih tercatat naik 38,14% yoy. 

Baca Juga: Rilis data neraca perdagangan akan mendorong penguatan rupiah pada Jumat (15/10)

“Pergerakan ekspor ini tak lepas dari pelonggaran restriksi di berbagai negara karena adanya peningkatan vaksinasi sehingga meningkatkan permintaan,” ujar Muhammad dalam laporannya, Kamis (14/10). 

Dalam hal ini, Indonesia juga ketiban berkah dari krisis energi di China. Saat ini, China sedang mengalami kekurangan batubara untuk produksi listrik, sehingga mengganggu kinerja manufaktur. 

Negara India juga mengalami hal yang sama, sehingga hal ini bisa mendorong kedua negara tersebut untuk mengimpor batubara dari Indonesia lebih banyak lagi. 

Kinerja manufaktur negara-negara mitra dagang Indonesia lain juga menggembirakan, salah satunya Thailand. Ini pun memperlebar peluang ekspor yang lebih tinggi. 

Baca Juga: Prediksi IHSG Kamis (14/10) melemah, untuk trading pilih saham ini

Di sisi lain, kinerja ekspor juga ditopang oleh tingginya harga komoditas karena peningkatan harga bahan bakar. Meski begitu, ini juga membawa risiko menahan perbaikan kinerja ekonomi. 

Dari sisi impor, kinerja impor diperkirakan sebesar US$ 15,60 miliar atau turun 6,45% mtm. Hanya, secara tahunan impor masih tercatat naik 34,68% yoy. 

Peningkatan impor ini didorong oleh ekspansinya kinerja manufaktur Indonesia pada bulan laporan karena ada pelonggaran PPKM level 4 yang meningkatkan permintaan. 

Selanjutnya: Pergerakan IHSG Menunggu Sinyal dari Risalah The Fed

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli

Terbaru