Ekonom: Cadangan Devisa Indonesia Diproyeksi Jadi US$ 130 Miliar di Akhir 2022

Selasa, 08 November 2022 | 05:15 WIB   Reporter: Dendi Siswanto
Ekonom: Cadangan Devisa Indonesia Diproyeksi Jadi US$ 130 Miliar di Akhir 2022


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cadangan devisa Indonesia diproyeksi terus turun hingga akhir 2022. Di mana, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2022 capai US$ 130,2 miliar. Angka ini turun US$ 600 juta dari posisi September 2022 yang sebesar US$ 130,8 miliar.

Angka tersebut setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Mengutip laporan BI, penurunan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri (ULN) pemerintah dan perlunya stabilisasi nilai tukar rupiah seiring dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

BI memandang cadangan devisa Indonesia ke depan tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi domestik yang solid, sejalan dengan respons kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung proses pemulihan ekonomi nasional.

Baca Juga: Cadangan Devisa Oktober 2022 Turun Jadi US$ 130,2 Miliar

Sementara itum Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman meramal, cadangan devisa pada akhir tahun 2022 mencapai US$ 130 miliar.

Angka itu turun dibandingkan tahun 2021 yang tercatat US$ 144,9 miliar. Dirinya juga memperkirakan nilai tukar rupiah menjadi Rp 15.186 per dolar AS pada akhir tahun 2022, dan berada dalam kisaran Rp 15.080 per dolar AS sepanjang tahun ini.

Perkiraan tersebut muncul karena dirinya melihat di tengah ketidakpastian global, neraca transaksi berjalan akan terus mencetak surplus. Hal ini didukung oleh surplus yang baik di tengah harga komoditas yang tinggi.

Hanya saja, surplus tersebut dapat tertahan oleh kekhawatiran resesi global yang dapat melemahkan permintaan global, sehingga berisiko melemahnya kinerja ekspor di kuartal IV-2022.

"Kami memperkirakan impor masih dapat mengimbangi ekspor seiring dengan akselerasi pemulihan ekonomi domestik. Kami melihat neraca transaksi berjalan 2022 berpotensi mencatat surplus 0,45% dari produk domestik bruto (PDB), mendukung cadangan devisa dan stabilitas nilai tukar rupiah," ujar Faisal kepada Kontan.co.id, Senin (7/11).

Baca Juga: BPS Mencatat Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,72% di Kuartal III-2022

Sementara itu, dia melihat, neraca transaksi modal dan finansial di kuartal IV-2022 dapat terus menghadapi beberapa risiko penurunan yang mungkin menutupi potensi arus masuknya. Ini termasuk normalisasi moneter global yang lebih agresif di tengah inflasi yang masih tinggi, yang memicu aliran modal keluar terutama di pasar obligasi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kemudian, Faisal bilang, kebutuhan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo juga akan menyebabkan investasi lainnya mengalami defisit neto.

"Sumber arus masuk diperkirakan berasal dari investasi langsung dan pasar saham, didorong oleh pemulihan ekonomi domestik yang solid," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru