Ekonom BCA proyeksi cadangan devisa Februari di kisaran US$ 137 miliar-US$ 139 miliar

Kamis, 04 Maret 2021 | 08:25 WIB   Reporter: Bidara Pink
Ekonom BCA proyeksi cadangan devisa Februari di kisaran US$ 137 miliar-US$ 139 miliar

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Kepala ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan, cadangan devisa di bulan Februari 2021 tidak akan banyak bergerak dibandingkan dengan posisinya di bulan Januari. 

Sekedar mengingatkan, cadangan devisa Indonesia di Januari lalu mencapai US$ 138 miliar. David menebak, cadangan devisa di akhir bulan lalu berada di kisaran US$ 137 miliar-US$ 139 miliar.

Dengan kata lain, kalau ada penurunan maupun peningkatan tidak akan terlalu banyak mengubah posisi cadangan devisa Indonesia.  “Di awal tahun ini belum ada penerbitan obligasi dengan denominasi dolar Amerika Serikat (AS). Sejalan dengan itu, kecenderungan ada outflow di investasi portofolio. Namun, sebaliknya, harga minyak naik meski tidak sekencang peningkatan pada Januari 2021 dan ini juga mendorong ekspor minyak,” kata dia kepada Kontan.co.id, Rabu (3/3). 

Sejalan dengan hal itu, David melihat pergerakan nilai tukar rupiah di bulan Februari 2021 cenderung melemah. Ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. 

Baca Juga: Hari ini menguat 0,28%, simak proyeksi pergerakan IHSG untuk Kamis (4/3)

Pertama, sentimen kenaikan yield US Treasury. Yield obligasi Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain, termasuk Indonesia naik. Ini menjadi sentimen negatif bagi pergerakan mata uang, tak terkecuali rupiah. 

Kedua, mulai naiknya nilai impor seiring dengan harga minyak mentah global yang meroket. Di satu sisi, volume impor juga naik seiring dengan mobilitas masyarakat yang makin baik dan kepercayaan masyarakat yang mulai pulih. 

Ke depan, David melihat peluang bagi cadangan devisa untuk meningkat di akhir tahun 2021. Ia memperkirakan, cadangan devisa akan bergerak di kisaran US$ 135 miliar hingga US$ 140 miliar. 

Sementara nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp 14.400 hingga Rp 14.500 per dolar AS. Namun, yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan pelemahan terjadi di akhir kuartal I-2021 hingga awal kuartal II-2021.

“Apalagi mau ada pembagian dividen. Biasanya ada pembagian dividen, sentimen untuk nilai tukar agak negatif. Sekitar Maret atau April jadi perlu diantisipasi,” pungkas David.

 

Selanjutnya: PMI Manufaktur RI melambat pada Februari, begini prospeknya di bulan Maret

 

Editor: Anna Suci Perwitasari
Terbaru