kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45981,95   -5,95   -0.60%
  • EMAS1.164.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Ekonom Bank Permata perkirakan BI masih mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5%


Selasa, 21 September 2021 / 08:15 WIB
Ekonom Bank Permata perkirakan BI masih mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5%

Reporter: Bidara Pink | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Permata memperkirakan Bank indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2021. 

“Ini dengan mempertimbangkan indikator ekonomi cenderung stabil, baik inflasi maupun nilai tukar rupiah,” ujar Kepala ekonom Bank Permata Josua Pardede kepada Kontan.co.id, Senin (20/9). 

Josua kemudian memerinci, inflasi hingga Agustus 2021 masih relatif terjaga, yaitu di bahawa 2%, alias di bawah batas bawah kisaran sasaran bank sentral. Tepatnya, inflasi Agustus 2021 tercatat 1,59% yoy. 

Meski tingkat inflasi masih rendah, Josua tetap melihat sudah adanya peningkatan permintaan secara gradual, seiring dengan kembalinya daya beli masyarakat. Walau, memang masih terpantau lemah. Dari sisi nilai tukar rupiah tercatat stabil di kisaran Rp 14.200 hingga Rp 14.300 per dollar Amerika Serikat (AS) sejak awal bulan September 2021. 

Kinerja yang cukup apik, mengingat santer kabar rencana pengetatan moneter (tapering off) dari bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) yang ditakutkan akan menekan nilai tuar rupiah, arus modal asing yang masuk, dan juga pasar Surat Berharga Nasional (SBN). 

Baca Juga: Tok! Target pertumbuhan ekonomi tahun 2022 ditetapkan 5,2%

“Namun, efek sinyal The Fed tersebut tidak separah tahun 2013. Pelaku pasar keuangan saat ini cenderung memberikan reaksi yang tidak berlebihan,” tambah Josua. 

Nah, dengan kondisi seperti ini, Josua pun memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50% hingga akhir tahun 2021 dan mulai akan melakukan pengetatan kebijakan terutama injeksi likuiditas atau quantitative easing (QE) di tahun depan untuk mengimbangi langkah kebijakan tapering off The Fed. 

Baru, paling cepat pada akhir tahun 2022 BI akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan. Itupun akan sangat bergantung pada tren inflasi domestik ke depan. 

Namun, Josua tetap optimistis Indonesia masih akan bisa menjaga iklim investasi yang ciamik, baik di investasi portofolio maupun di investasi asing langsung sehingga akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik di tengah normalisasi kebijakan moneter AS. 

“Dengan melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang resilient dan stabil, ditopang oleh cadangan devisa yang solid, sebagai first line of defence,” tandas Josua. 

Selanjutnya: Pengamat sebut BI tak perlu atur rasio pembiayaan UMKM perbankan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×