Ekonom Bank Danamon Proyeksi Inflasi Capai 4,5% di Akhir Tahun, Ini Penyebabnya

Jumat, 03 Juni 2022 | 05:50 WIB   Reporter: Bidara Pink
Ekonom Bank Danamon Proyeksi Inflasi Capai 4,5% di Akhir Tahun, Ini Penyebabnya


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah mencatatkan inflasi sebesar 0,40% pada bulan Mei 2022, Indeks Harga Konsumen (IHK) diperkirakan terus meningkat selama beberapa waktu ke depan.

Analis makroekonomi Bank Danamon Irman Faiz mengatakan, peningkatan akan nampak pada inflasi umum maupun inflasi inti. Namun, pergerakannya cenderung akan secara bertahap.

Nah, dengan pergerakan ini, tingkat inflasi diperkirakan berada di batas atas kisaran sasaran Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yang sebesar 4% yoy, bahkan berpotensi melampauinya.

“Kami melihat inflasi akan terakselerasi ke batas atas target bank sentral. Sejauh ini, inflasi umum berpotensi berada di kisaran 4,0% yoy hingga 4,5% yoy di akhir tahun 2022,” tutur Faiz kepada Kontan.co.id, Kamis (2/6).

Baca Juga: BPS Catat Inflasi pada Mei 2022 Sebesar 0,40%

Menurut Faiz, tekanan inflasi ini akan bersumber baik dari sisi permintaan (demand-pull inflation) yaitu pemulihan permintaan masyarakat dalam negeri serta faktor-faktor yang bersifat one-off, seperti berkaitan dengan pendidikan dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Faiz pun menduga tak akan terjadi lonjakan inflasi yang besar. Hal ini sehubungan dengan langkah pemerintah menambah subsidi sehingga harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG bersubsidi tidak berubah.

Namun, dia mengingatkan, inflasi masih ada kemungkinan untuk melonjak bila ada hal tak terduga lain ke depan, seperti misalnya ada peningkatan harga minyak global yang signifikan.

Lebih lanjut, Faiz memberi imbauan kepada pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) untuk menjaga tingkat inflasi ke depan.

Dalam hal ini, pemerintah bisa melakukan upaya dalam menjaga suplai. Pasalnya, inflasi selama beberapa bulan terakhir malah bersumber dari sisi suplai. Harapannya, ke depan inflasi dari sisi suplai (cost-push inflation) tidak terlalu tinggi.

Baca Juga: BPS Catat Inflasi Harga Bergejolak Picu Kenaikan Harga di Bulan Mei 2022

Sedangkan untuk BI, otoritas moneter baiknya mengendalikan likuiditas. Ia mengapresiasi langkah yang sebenarnya sudah diambil oleh BI ini, yaitu dengan peningkatan kewajiban Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah yang bahkan direncanakan lebih agresif pada tahun ini.

“Ini merupakan sinyal baik, bahwa BI terus mengawasi perkembangan pemulihan sehingga jangan sampai likuiditas terlalu lebih sehingga terjadi overheating,” tutur Faiz.

Kemudian, untuk mencegah inflasi yang sangat tinggi, maka Faiz menilai langkah pre-emptive perlu dilakukan oleh BI, yaitu dengan mengerek suku bunga acuan bila inflasi inti sudah ada di kisaran 3%.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru