CLOSE [X]

DPR: Roadmap Pengembangan Industri Logam Tanah Jarang Segera Disusun

Rabu, 13 April 2022 | 06:45 WIB   Reporter: Muhammad Julian
DPR: Roadmap Pengembangan Industri Logam Tanah Jarang Segera Disusun


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengembangan industri logam tanah jarang (LTJ) di dalam negeri makin diseriusi. 

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Senin (11/4) lalu, Komisi VII DPR RI meminta Direktur Jenderal (Dirjen) Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) dan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Dirjen ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) agar berkoordinasi menyusun peta jalan atau road map pengembangan industri LTJ yang secara ekonomi dan teknologi dapat dikembangkan di dalam negeri. Tenggat waktunya di akhir tahun 2022 mendatang.

“Komisi VII DPR RI meminta Dirjen Minerba KESDM dan Dirjen ILMATE Kemenperin RI untuk berkoordinasi dengan menyusun roadmap pengembangan industri logam tanah jarang (LTJ) yang secara ekonomi dan teknologi dapat dikembangkan di dalam negeri selambat-lambatnya pada akhir tahun 2022 dan disampaikan secara berkala pada Komisi VII DPR RI dengan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Timah Tbk,” demikian bunyi kesimpulan poin 2 RDP yang dibacakan oleh pimpinan RDP Komisi VII  DPR RI, Senin (11/4).

Baca Juga: Badan Geologi Lakukan Kajian Potensi Logam Tanah Jarang di Lumpur Lapindo

Sedikit informasi, dalam pemanfaatannya, penggunaan LTJ dapat ditemukan di banyak industri mulai dari industri alat medis, elektronik, industri pertahanan dan masih banyak lagi.  Logam tanah jarang sendiri dapat diperoleh sebagai produk samping pengolahan bijih timah,  produk samping pengolahan emas, nikel, bauksit atau pada tambang pasir zirkon. Selain itu, logam tanah jarang juga berpotensi ditemukan pada batuan granit, abu batubara alias fly ash dan bottom ash (FABA) dan lain-lain.

Di Indonesia, sumber daya LTJ ditemukan di sejumlah wilayah. Berdasarkan data  pemetaan oleh Badan Geologi di tahun 2020, Bangka Belitung menjadi provinsi dengan sumber daya mineral LTJ terbanyak, yakni sebesar  186.663 ton dalam bentuk monasit dan 20.734 dalam bentuk material senotim. 

Selain Bangka Belitung, mineral LTJ juga berhasil diidentifikasi dalam bentuk lain dengan jumlah yang lebih sedikit pada provinsi lainnya. Data pemetaan Badan Geologi di tahun 2020 menunjukkan, mineral LTJ dalam bentuk laterit juga diidentifikasi di Sulawesi Tengah sebesar 443 ton dan Kalimantan Barat sebesar 219 ton. Selain itu, mineral LTJ juga diidentifikasi di Sumatera Utara sebesar 19.917 ton.

Di Indonesia, kewenangan pengembangan mineral LTJ dipegang oleh 2 instansi, yakni Kementerian ESDM pada sisi hulu dan Kemperin pada sisi hilir. Pada sisi hulu, Kementerian ESDM berperan dalam hal estimasi  sumber daya dan cadangan, serta inventarisasi LTJ pada sisa hasil pengolahan. Sementara itu, Kemenperin berperan mengurusi pemanfaatan mineral LTJ oleh industri pengguna mineral LTJ pada sisi hilir.

Dirjen ILMATE, Taufiek Bawazier mengatakan, Kemenperin telah menyiapkan roadmap untuk pemanfaatan LTJ di rantai hilir. Namun, ia menilai bahwa roadmap ini tidak akan bisa bekerja dengan baik bila tidak didukung oleh cadangan dan industri pertambangan LTJ yang kuat di hulu.

Selain itu, Taufiek juga menekankan pentingnya data pemetaan mineral LTJ dalam pemanfaatan LTJ oleh industri hilir. “Sebetulnya kalau kita punya mapping yang kuat dalam artian yang sudah tadi disebutkan, investasi (hilir) mungkin bisa masuk ke dalamnya,” ujar Taufiek dalam RDP (11/4).

Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Ridwan Djamaluddin mengakui, kegiatan eksplorasi mineral LTJ di dalam negeri masih terbatas. Sampai tahun 2021 lalu, kegiatan eksplorasi yang dilakukan masih berupa eksplorasi awal. “Kita pada dasarnya harus mengakui bahwa dalam hal eksplorasi logam tanah jarang memang kita belum cukup maju, tahapan eksplorasi kita masih terbatas,” tutur Ridwan.

Baca Juga: Potensi dan Pemanfaatan Logam Tanah Jarang

Sejak tahun 2021 lalu, Kementerian ESDM sudah melakukan eksplorasi awal melalui kegiatan-kegiatan teknis seperti pemetaan georadar geomagnet, dan lain-lain. Kegiatan tersebut menghasilkan estimasi sumber daya di Keposang, Bangka Selatan pada area potensi seluas 250 hektar dengan total volume 35.000 ton lebih LTJ.

Di tahun 2022 ini, Kementerian ESDM berencana meningkatan tingkatan eksplorasi dari semula eksplorasi awal menjadi eksplorasi detail di Bangka Belitung. Selain itu, Kementerian ESDM juga berencana mengawal eksplorasi awal di Mamuju dan Konawe pada tahun 2022 ini. Harapan Kementerian ESDM, kegiatan eksplorasi detail juga dapat dilangsungkan di Ketapang, Sibolga, Pegunungan Tiga Puluh, dan Papua.

Senada dengan Taufiek, Ridwan juga menilai bahwa sinergi antara Kementerian ESDM dan Kemenperin memiliki peran penting dalam pengembangan industri LTJ.

“Saya mungkin nanti dengan Pak Dirjen ILMATE dan perusahaan betul-betul harus menentukan dulu ke arah mana kita mau bergerak supaya kita bisa fokus menentukan arahnya, karena biasanya di Indonesia ini (sumber daya) jenisnya kita bisa punya banyak ragamnya, tapi jumlahnya tidak banyak-banyak amat,” tutur Ridwan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru