kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Dipimpin China, 4 negara gelar latihan militer gabungan anti-terorisme


Selasa, 07 September 2021 / 19:20 WIB
Dipimpin China, 4 negara gelar latihan militer gabungan anti-terorisme

Sumber: Global Times | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Latihan penjaga perdamaian multinasional pertama yang diselenggarakan China resmi dimulai pada Senin (6/9). Selain China, latihan militer ini juga diikuti oleh Mongolia, Pakistan, dan Thailand.

Bertajuk Shared Destiny-2021, keempat negara akan fokus pada pelatihan terkait pengintaian, patroli, pengawalan bersenjata, serangan anti-teroris dan penyelamatan di medan perang selama 10 hari ke depan, atau hingga 15 September mendatang.

Dilansir dari Global Times, Shared Destiny-2021 dimulai dengan upacara pembukaan pada Senin pagi di pangkalan pelatihan taktis senjata gabungan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) di daerah Queshan, Provinsi Henan, China Tengah.

Pasukan militer China, Mongolia, Pakistan, dan Thailand berbaris menuju lapangan latihan segera setelah upacara dan langsung memulai sejumlah agenda latihan.

Baca Juga: Taliban mengincar hubungan kerja sama dengan Rusia hingga Pakistan

Juru bicara Kementerian Pertahanan China Kolonel Senior Tan Kefei mengatakan pada konferensi pers reguler, lebih dari 1.000 tentara China dilibatkan dalam latihan skala besar ini.

Di antaranya meliputi unit infanteri, unit respons cepat, pasukan keamanan, helikopter, unit teknik, unit transportasi, dan layanan medis.

Shared Destiny-2021 ditandai sebagai latihan penjaga perdamaian multinasional yang pernah diselenggarakan oleh China. Besar kemungkinan latihan model ini akan diselenggarakan secara rutin di masa mendatang.

Bersiap dengan latihan militer lain

Bersamaan dengan Shared Destiny-2021, militer China juga akan mengirim pasukannya untuk mengikuti latihan militer gabungan lain di Rusia pada 11-25 September mendatang.

Baca Juga: Rusia khawatir sisa senjata AS di Afghanistan digunakan dalam perang sipil



TERBARU

×