Di Tengah Perang, Neraca Transaksi Berjalan Rusia Malah Cetak Rekor Surplus

Kamis, 19 Januari 2023 | 04:50 WIB Sumber: Reuters
Di Tengah Perang, Neraca Transaksi Berjalan Rusia Malah Cetak Rekor Surplus


KONTAN.CO.ID -  MOSKOW.  Surplus transaksi berjalan (current account) Rusia mencapai rekor tertinggi pada tahun 2022. Hal itu sebagaimana dilaporkan Bank Sentral Rusia pada Selasa (17/1). 

Surplus neraca berjalan Rusia ditopang penurunan impor dan menguatnya ekspor. Terutama ekspor minyak dan gas yang membuat uang asing terus mengalir ke Rusia meskipun ada upaya Barat mengisolasi ekonomi Rusia.

Melansir Reuters, rekening koran Rusia mencapai US$ 227,4 miliar, naik 86% dari tahun 2021.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Naik Terkerek Optimisme Ekonomi Global, Brent ke US$81,58

Impor Rusia turun tajam tahun lalu di tengah eksodus perusahaan Barat akibat sanksi besar-besaran terhadap Moskow atas invasi ke Ukraina.

Tetapi Kremlin mengganti pendapatan yang hilang dari ekspor minyak dan gasnya ke Eropa dengan meningkatkan ekspor ke China, India, dan negara-negara Asia lainnya.

Menurut data Bea Cukai China, perdagangan Rusia dan China mencapai rekor tertinggi US$ 190 miliar tahun 2022.

Saat impor turun, neraca perdagangan Moskow membengkak menjadi US$ 282,3 miliar pada tahun 2022, naik dari US$ 170,1 miliar tahun sebelumnya.

Bank sentral Rusia mengatakan harga komoditas yang lebih tinggi sepanjang tahun 2022 telah membantu mendorong transaksi berjalan lebih tinggi.

Baca Juga: AS Jadi Negara Terkuat di Dunia pada 2022

Sementara impor perlahan pulih pada paruh kedua tahun ini. Namun pendapatan ekspor Rusia diprediksi berada di bawah tekanan baru pada 2023 karena sanksi Barat dan Jepang terhadap minyak Rusia mulai berlaku penuh.

Kelompok Tujuh negara ekonomi terbesar dunia tersebut akan memperluas embargo minyak terhadap Rusia mulai 5 Februari.

Analis mengatakan ini dapat menyebabkan pengurangan produksi minyak Rusia hingga 1 juta barel per hari (bpd) pada kuartal pertama 2023.

Produksi produk minyak Rusia tahun ini diperkirakan turun tajam menjadi 230 juta ton dari 272 juta tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli

Terbaru