Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI) Fokus Truk di Atas 24 Ton

Selasa, 02 Agustus 2022 | 18:10 WIB   Reporter: Vina Elvira
Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI) Fokus Truk di Atas 24 Ton


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI) mencatatkan pertumbuhan penjualan truk Mercedes-Benz lebih dari 100% hingga Juni 2022.

Pertumbuhan tersebut seiring dengan perkembangan penjualan truk kategori di atas 24 ton yang juga mengalami peningkatan, akibat lonjakan harga komoditas seperti batubara dan nikel. Dengan demikian, permintaan truk angkutan berat pun ikut menuai berkah. 

Head of Marketing Communication DCVI Faustina menuturkan bahwa saat ini pihaknya memang tengah fokus pada truk di atas 24 ton. Yang mana, mayoritas permintaan memang datang dari pelanggan di segmen tambang dan juga konstruksi.

Jika kondisi permintaan pasar dan sektor pendukungnya tetap menunjukkan hasil positif hingga akhir tahun nanti, DCVI optimistis dapat meraup market share hingga dua digit untuk kategori truk di atas 24 ton.

Baca Juga: Daimler Commercial Vehicles Indonesia Tanam Ribuan Bibit Mangrove di Bali

"Dengan market share sebesar 9,1% per akhir tahun 2021 untuk kategori truk di atas 24ton, DCVI optimis bisa mencapai market share dua digit," kata Faustina, kepada Kontan.co.id, Minggu (31/7) lalu.

Meskipun permintaan truk terus mengalami peningkatan, DCVI mengklaim masih hingga saat ini pihaknya masih bisa memenuhi permintaan yang masuk. Hal itu didukung oleh sejumlah antisipasi yang telah dilakukan perusahaan sejak akhir tahun 2021.

"Kami antisipasi sejak akhir tahun lalu dengan mengamati perkembangan, kenaikan nilai komoditi yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai bahan baku otomotif dan pendukungnya,  pemulihan Covid-19 yang terus menerus diupayakan pemerintah, dan proyek konstruksi yang mulai menggeliat kembali sedikit demi sedikit," jelas dia.

Lebih lanjut, Faustina bilang bahwa DCVI sampai saat ini belum mengalami kendala untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Namun memang ada hal yang mesti digarisbahawi, seperti kondisi logistik yang belum sepenuhnya pulih. Sehingga sehingga proses pengiriman baik itu bahan baku, suku cadang ataupun kendaraan masih mempunyai resiko keterlambatan hingga pemulihan mencapai 100%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto

Terbaru