kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.624.000   -40.000   -1,50%
  • USD/IDR 17.783   18,00   0,10%
  • IDX 6.596   -4,17   -0,06%
  • KOMPAS100 859   -4,53   -0,52%
  • LQ45 652   -2,54   -0,39%
  • ISSI 229   -0,27   -0,12%
  • IDX30 365   -1,19   -0,33%
  • IDXHIDIV20 451   -1,09   -0,24%
  • IDX80 98   -0,50   -0,51%
  • IDXV30 124   -1,26   -1,01%
  • IDXQ30 117   -0,24   -0,20%

Cuma terjadi di 4 negara, WHO: Separuh dari kasus virus corona global


Selasa, 10 November 2020 / 10:00 WIB

Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - JENEWA. Hingga Senin (9/11), data yang masuk ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, hampir 50 juta kasus virus corona baru global, dan lebih dari 1,2 juta orang meninggal akibat Covid-19.

"Separuh dari semua kasus dan kematian hanya terjadi di empat negara," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat membuka Majelis Kesehatan Dunia secara virtual, Senin (9/11), dikutip dari laman WHO.

Keempat negara itu: Amerika Serikat yang sudah mencatat 10 juta kasus virus corona, mengacu hitungan Reuters pada Senin (9/11), lalu India, Brasil, dan Rusia.

Tapi, Tedros mengatakan, ada banyak negara dan wilayah yang berhasil mencegah atau mengendalikan penularan virus corona, dengan pendekatan komprehensif berbasis bukti.

Baca Juga: Saat gelombang ketiga virus corona, kasus infeksi di AS lampaui 10 juta

Virus corona tidak memandang retorika politik

Meski begitu, beberapa negara, terutama di Eropa dan Amerika, sekarang memberlakukan kembali pembatasan untuk mengatasi gelombang baru virus corona yang mereka hadapi, dan mencegah sistem kesehatan kewalahan.

"Kita mungkin bosan dengan Covid-19. Tapi, itu tidak membuat kita lelah," tegas Tedros.

"Ya, itu (virus corona) memangsa mereka yang kesehatannya lebih lemah. Tapi, itu memangsa kelemahan lain, juga: ketidaksetaraan, perpecahan, penyangkalan, angan-angan, dan ketidaktahuan yang disengaja," imbuhnya.

"Kita tidak bisa bernegosiasi dengannya, atau menutup mata kita dan berharap itu (virus corona) pergi. Dia tidak memperhatikan retorika politik atau teori konspirasi," ujar Tedros.

Harapan satu-satunya adalah sains, solusi, dan solidaritas. "Itulah yang dilakukan WHO sejak awal," sebut dia.

Selanjutnya: Efek perlindungan vaksin corona Pfizer-BioNTech bisa bertahan setahun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Terpopuler
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

×