China Diramal Masih Akan Tahan Bunga Acuan Kredit

Sabtu, 19 November 2022 | 13:00 WIB Sumber: Reuters
China Diramal Masih Akan Tahan Bunga Acuan Kredit


KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Bank sentral China diprediksi masih akan mempertahankan suku bunga acuan kredit untuk bulan ketiga berturut-turut pada Senin pekan depan.

Pembuat kebijakan di China tetap enggan untuk mendorong yuan lebih rendah dengan pelonggaran kondisi moneter lebih lanjut.

Suku bunga dasar kredit yang biasanya dikenakan bank kepada klien terbaik mereka, dihitung setiap bulan setelah 18 bank komersial yang ditunjuk mengajukan bunga kredit yang diusulkan ke People's Bank of China (PBOC).

Dalam jajak pendapat Reuters terhadap 22 pengamat pasar yang dilakukan minggu ini, semuanya memperkirakan tidak ada perubahan pada bunga dasar kredit tenor satu tahun di China. Namun, lima responden atau 23% memperkirakan ada pengurangan bunga kredit untuk tenor lima tahun.

Baca Juga: Presiden China Xi Jinping Pertimbangkan untuk Gelar Belt & Road Forum Pada Tahun 2023

Sebagian besar pinjaman baru dan terutang di China didasarkan pada suku bunga dasar kredit tenor satu tahun, yang mencapai 3,65%.

Sementara, tingkat bunga kredit tenor lima tahun mempengaruhi harga hipotek dan sekarang berada di 4,30%. China terakhir kali memangkas bunga kredit pada Agustus 2022 lalu untuk mendorong perekonomian.

"Kami memperkirakan bunga kredit satu tahun tetap tidak berubah pada 3,65% karena PBOC mempertahankan tingkat fasilitas pinjaman jangka menengah (MLF) tetap datar pada November," kata analis di Barclays dalam sebuah catatan.

Bank sentral sebagian menggulirkan pinjaman MLF yang jatuh tempo awal pekan ini dan mempertahankan suku bunga tidak berubah selama tiga bulan berturut-turut, menunjukkan pembuat kebijakan tetap waspada yang bisa memicu pelemahan yuan lebih lanjut dengan melonggarkan kondisi moneter.

Pihak berwenang berusaha untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa memicu ketidakstabilan keuangan.

Menurunkan suku bunga untuk menopang ekonomi yang melambat dapat semakin memperluas kebijakan moneter China terhadap ekonomi utama, terutama Amerika Serikat, yang dapat mendorong arus keluar modal.

Mata uang yuan China telah merosot 11% terhadap dolar AS tahun ini dan tampaknya akan mengalami kerugian tahunan terbesar sejak 1994.

Baca Juga: Xi Jinping Tegur Justin Trudeau Gara-gara Obrolan Bocor? Ini Kata Kemenlu China

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru