Cemas lonjakan kasus corona, sebagian warga Jepang minta Olimpiade Tokyo dibatalkan

Selasa, 15 Desember 2020 | 21:10 WIB Sumber: NHK
Cemas lonjakan kasus corona, sebagian warga Jepang minta Olimpiade Tokyo dibatalkan


KONTAN.CO.ID - TOKYO. Melalui jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh NHK, setidaknya sepertiga warga Jepang berharap gelaran Olimpiade Tokyo dibatalkan. Kekhawatiran akan virus corona baru masih jadi penyebab utamanya.

Selasa (15/12), NHK merilis hasil jajak pendapat nasional mengenai dukungan publik terhadap Olimpiade Tokyo yang rencananya akan berlangsung tahun depan.

Sepertiga penduduk Jepang ingin Olimpiade Tokyo dibatalkan di tengah kekhawatiran masuknya orang asing bisa menyebabkan lonjakan lebih lanjut dalam kasus virus corona.

Pada Maret lalu, Pemerintah Jepang dan Komite Olimpiade Internasional (IOC) memutuskan untuk menunda Olimpiade 2020 hingga tahun depan karena pandemi virus corona. 

Baca Juga: Jepang laporkan 1.634 kasus baru virus corona, tertinggi sejak Agustus

Olimpiade Tokyo 2020

Sementara September lalu, Jepang dan IOC akhirnya sepakat untuk menggelar Olimpiade Tokyo pada 2021, tepatnya akan berlangsung 23 Juli sampai 8 Agustus.

Hanya 27% yang setuju

Jajak pendapat NHK yang dilakukan selama periode 11-13 Desember menunjukkan, 32% responden ingin Olimpiade Musim Panas dibatalkan seluruhnya.

Hanya 27% yang setuju Olimpiade Tokyo harus dimulai sesuai jadwal. Sementara 31% lainnya merasa pesta olahraga terakbar di dunia tersebut harus ditunda lagi.

Sebelumnya, NHK sempat melakukan jajak pendapat serupa pada Oktober lalu. Hasilnya, 40% responden mengatakan, Olimpiade harus diadakan sesuai rencana dan hanya 23% yang berharap Olimpiade dibatalkan. Sebanyak 25% sisanya ingin penundaan.

Baca Juga: Kasus corona terus bertambah, Gubernur Tokyo optimis bisa lanjutkan Olimpiade

Berubahnya hasil jajak pendapat baru-baru ini tentunya tidak lepas dari melonjaknya jumlah kasus virus corona di negeri matahari terbit. 

Lonjakan jumlah kasus yang terjadi sepekan terakhir memaksa Pemerintah Jepang untuk menerapkan kembali langkah-langkah pencegahan, seperti pengurangan jam operasional bar dan restoran.

Perdana Menteri Yoshihide Suga pada Senin (14/12) bahkan terpaksa menghentikan untuk sementara program subsidi wisata, demi mengontrol pergerakan penduduk di luar ruangan.

Program subsidi tersebut sebenarnya memang telah lama menuai kritik karena dianggap terlalu berbahaya di tengah pandemi yang belum mereda.

Di sis lain, Pemerintah Jepang berharap, program tersebut bisa menghidupkan kembali roda perekonomian di sektor pariwisata yang sempat terhenti akibat pandemi sejak awal tahun ini.

Selanjutnya: Komite Olimpiade Internasional: Olimpiade Tokyo dimulai 23 Juli 2021

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru