O

Cara mencegah anak dari paparan ajaran radikalisme

Sabtu, 24 April 2021 | 03:25 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Cara mencegah anak dari paparan ajaran radikalisme


KONTAN.CO.ID - Ajaran radikalisme telah menyentuh banyak anak-anak. Bagaimana cara agar anak kita tidak terpapar radikalisme?

Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2021 tentang pencegahan dan penanggulangan terorisme di Indonesia.

namun demikian pemerintah membutuhkan bantuan dari seluruh elemen terkecil masyarakat, salah satunya keluarga, untuk menekan angka terorisme di Indonesia.

Maraknya aksi terorisme terjadi karena masuknya paham-paham radikalisme. Paham ini bisa dicegah dengan pola asuh yang tepat. 

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Ilham Nur Alfian, bersumber dari laman Unair, menjelaskan jika keluarga merupakan tempat pertama anak mendapatkan pelajaran mereka. 

Di dalam keluarga mereka belajar tentang nilai-nilai kerukunan, toleransi dan pengakuan atas keberagaman melalui interaksi yang mereka lakukan dengan anggota keluarga. 

Keluarga menjadi garda terdepan untuk mencegah pola pikir radikal yang bisa menimbulkan aksi terorisme. Karenanya keluarga memiliki peran penting untuk mendiskusikan informasi yang saat ini sangat mudah didapatkan. 

Ilham juga menuturkan jika orangtua perlu memiliki pemahaman keagamaan yang benar dan utuh sehingga bisa memberikan contoh praktik keagamaan yang baik. 

“Jika orangtua sudah menjadi contoh yang baik dalam praktik keagamaan, anak akan dapat percaya dan tidak segan membuka topik pembicaraan seputar paham keagamaan yang telah mereka terima,” jelasnya seperti dikutip dari situs Unair. 

Baca Juga: ITS jawara, ini daftar universitas terbaik Indonesia versi THE Impact Rankings 2021

Pola asuh yang tepat mencegah paham radikalisme

Untuk mencegah paham radikalisme masuk dalam lingkungan keluarga terutama pada anak adalah menerapkan pola asuh yang tepat. 

Menurut Ilham, pola asuh yang demokratis dan toleran bisa menjadi benteng untuk menghalau ajaran terorisme. Orangtua bisa memiliki kontrol yang tinggi pada anak tetapi tetap terjalin hubungan yang hangat. 

“Dengan model pengasuhan ini orangtua akan mampu mengarahkan aktivitas anak, memberikan dorongan, menghargai tingkah laku anak, dan membimbingnya,” jelasnya.

Anak bisa bebas mengurus diri mereka sendiri namun tetap mengedepankan kedisiplinan yang sudah disepakati bersama. 

Kunci kesuksesan dalam pola pengasuhan demokratis adalah komunikasi. Jangan membuat konsep bahwa orangtua selalu benar. 

Karena orangtua juga merupakan manusia maka Anda juga tidak luput dari kesalahan. Hal ini diperlukan agar Anda bisa menerima masukan dan keinginan buah hati. 

Anak menjadi lebih paham dengan perbedaan dan terhindar dari intoleransi karena sudah terbiasa dengan diskusi yang beragam. 

Jika pola pikir buah hati sudah terbentuk demokratis, mereka bisa terhindar dari radikalisme, kasar, dan memaksakan kehendak.

Selanjutnya: Ini 3 tipe belajar anak dan gaya belajar yang tepat untuk mengoptimalkannya

Editor: Tiyas Septiana
Terbaru