Butuh media komunikasi berbasis satelit, BRIN akan membangun bandar antariksa

Senin, 20 September 2021 | 16:05 WIB   Reporter: Vendy Yhulia Susanto
Butuh media komunikasi berbasis satelit, BRIN akan membangun bandar antariksa

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berencana membangun bandar antariksa. Dua lokasi yakni pulau Morotai Maluku Utara dan pulau Biak Papua menjadi kandidat utama lokasi pembangunan bandar antariksa.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, urgensi kebutuhan pengembangan teknologi keantarariksaan nasional. Pembangunan bandar antariksa merupakan amanat UU nomor 21 tahun 2013 tentang Keantariksaan, yakni kegiatan peluncuran satelit dari Indonesia. Serta amanat Perpres nomor 49 tahun 2017 tentang Rencana Induk Keantariksaan yang mengamanatkan persiapan bandar antariksa skala kecil.

“Pembangunan bandar antariksa akan dimulai apabila telah dicapai kesepakatan dengan mitra konsorsium swasta pelaku industri peluncuran satelit. Saat ini kami sedang melakukan penjajakan dengan beberapa kandidat mitra dari dalam / luar negeri,” ucap Handoko saat dihubungi, Senin (20/9).

BRIN menjelaskan Indonesia merupakan negara besar yang secara geografis termasuk negara kepulauan, sehingga membutuhkan media komunikasi berbasis satelit. Oleh karena itu dibutuhkan teknologi keantariksaan untuk membangun hal tersebut.

Baca Juga: Waspada! Pesisir utara Pulau Jawa dalam posisi darurat tenggelam

Selain itu, saat ini sedang tumbuh tren pasar satelit baik yang berukuran nano, maupun mikro dengan berbagai kebutuhan, termasuk untuk remote sencing, pemetaan dan sebagainya.

“Wilayah Indonesia yang berada dekat garis khatulistiwa menjadi unggulan tersendiri sebagai lokasi strategis untuk peluncuran satelit, karena memiliki gravitasi yang rendah,” terang Handoko.

BRIN menerangkan, kebutuhan alokasi pembiayaan tahun 2022 diperkirakan membutuhkan anggaran Rp 200 miliar untuk pembangunan kantor, gedung integrasi dan pengujian.

Kemudian pada tahun 2023 membutuhkan anggaran Rp 800 miliar untuk pembangunan infrastruktur pendukung lainnya. Seperti AWS, AIS, sistem komunikasi, ALE, Ionosonda CADI, Gedung Launch Control, Administrasi, Gedung Proses Propelan.

Selanjutnya pada tahun 2024, kebutuhan anggaran Rp 50 miliar untuk pengoperasian awal bandar antariksa, pembangunan propelan cair fueling statin.

Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto menyatakan, Komisi VII mendorong penuh rencana pembangunan Bandar Antariksa di Biak dan Observatorium Gunung Timau di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kami, Komisi VII DPR RI mendorong Indonesia bagian timur untuk memiliki pusat sains yang besar, khususnya keantariksaan yang maju. Seperti Bandar antariksa atau pusat roket Indonesia yang rencananya akan dibangun di Biak,” ujar Sugeng.

Selanjutnya: BRIN ingatkan pesisir utara Pulau Jawa darurat tenggelam

 

Editor: Herlina Kartika Dewi
Terbaru