Bunga Deposito Bank Mulai Terkerek Akibat Suku Bunga Acuan Naik Lagi

Rabu, 23 November 2022 | 07:45 WIB   Reporter: Selvi Mayasari
Bunga Deposito Bank Mulai Terkerek Akibat Suku Bunga Acuan Naik Lagi


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank nampaknya sudah mulai mengerek bunga deposito, hal ini sebagai respons adanya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 50 bps atau 0,5% menjadi 5,25%.

Bank Ina misalnya, yang mengaku dengan kenaikan suku bunga acuan BI menjadi 5,25% dengan sendiri nya suku bunga di perbankan akan meningkat walaupun rate penjaminan LPS belum ada perubahan.

"Sekarang ini kenaikan suka bunga deposito antara 50 bps to 75 bps. Biaya dana dengan sendiri nya juga ada kenaikan, sementara ini sekitar 75 bps," terang Direktur Utama Bank Ina Perdana, Daniel Budirahayu kepada kontan.co.id, Senin (20/11).

Baca Juga: Kinerja Bank Digital Dibayangi Kenaikan Biaya Dana

Daniel mengatakan, target ke depan, pihaknya akan lebih agresif dalam meningkatkan dana CASA untuk mengimbangi kenaikan suku bunga deposito. Asal tahu saja, bank Ina menawarkan suku bunga deposito 3%-5% per tahun dengan tenor simpanan yang beragam mulai dari satu bulan, tiga bulan, enam bulan, hingga satu tahun.

Tak berbeda, PT Bank Central Asia Tbk atau BCA juga telah menaikkan suku bunga deposito guna menyesuaikan kenaikan BI Rate. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, bank telah menaikkan suku bunga deposito secara bertahap sejak kuartal III-2022 baik rupiah maupun valas secara berkala.

Pada 30 September lalu, bunga deposito rupiah BCA masih di level 1,90% untuk tenor 1-12 bulan. Sedangkan bunga deposito dollar AS sebesar 0,25% untuk tenor 1-12 bulan. Sementara saat ini bunga deposito rupiah BCA berkisar 2%-2,10% dan deposito dollar AS berkisar 0,75%-1,75%.

Adapun Direktur Distribution dan Funding BTN Jasmin, menyatakan, akan menyesuaikan bunga simpanan untuk merespon kenaikan suku bunga BI.

"Pasti BTN akan ikut menyesuaikannya untuk merespon kenaikan BI, sehingga cost of fund pasti akan naik," ungkap Jasmin.

Pada 30 September lalu, bunga deposito rupiah BTN masih di level 2,35%-2,75% untuk tenor 1-12 bulan. Sementara saat ini bunga deposito rupiah BTN berkisar 2,50%-3,00%.

Sementara, bank bjb mengatakan, suku bunga deposito baik di bank bjb maupun industri  sudah mulai menyesuaikan terhadap suku bunga acuan, dalam arti sudah mulai ada kenaikan.

Di sisi lain, Direktur Utama bank bjb Yuddy Renaldi menyebut, biaya dana secara umum pasti akan meningkat tinggal bagaimana bank melakukan manajemen likuiditasnya dengan baik pada dampak dari kenaikan suku bunga tersebut terhadap biaya dana tetap terkelola. 

"Bunga simpanan terutama deposito pada bank lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga sehingga dampak dari kenaikan suku bunga pun akan lebih awal berdampak pada biaya dana. Perbankan harus mendorong efisiensi, di sisi lain dana murah harus terus ditingkatkan agar dapat mengkompensasi kenaikan suku bunga yang terjadi," jelasnya.

Baca Juga: Era Bunga Rendah Berlalu, Tren Bunga Tinggi Bakal Berlangsung Lebih Lama

Menurutnya, secara pasti kenaikannya belum dapat disampaikan secata definitif, namun pihaknya selalu melihat situasi dan kondisi pasar untuk terus melakukan penyesuaiannya. Meskipun demikian, pihaknya masih optimis kinerja bank bjb masih dapat terjaga khususnya di akhir tahun ini sesuai dengan rencana bisnis.

Untuk diketahui, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat suku bunga simpanan di perbankan terus mengalami tren peningkatan. Hal ini seiring dengan naiknya suku bunga acuan BI yang saat ini berada di level 5,25%.

Berdasarkan laporan yang dirilis oleh LPS, rata-rata tingkat suku bunga deposito rupiah di seluruh bank naik 17 basis poin (bps) menuju level 3,31%pada Oktober 2022. Sementara, pada periode yang sama suku bunga maksimum naik 27 bps ke level 3,99% dan suku bunga minimum naik 8 bps menjadi 2,64%.

LPS memperkirakan suku bunga simpanan masih akan meningkat bertahap sejalan dengan kenaikan suku bunga acuan. Walau begitu, kondisi likuiditas diperkirakan tetap terjaga di tengah kebutuhan untuk menyalurkan kredit, serta memenuhi kebijakan likuiditas Bank Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .

Terbaru