BSI Berharap Bisnis Wealth Management Tumbuh 30% pada Tahun Ini

Rabu, 25 Januari 2023 | 06:00 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
BSI Berharap Bisnis Wealth Management Tumbuh 30% pada Tahun Ini


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Syariah Indonesia Tbk mencermati bisnis wealth management cukup menantang di tahun 2023. Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna menyatakan ini dibayangi potensi resesi dari negara-negara ekonomi besar seperti Amerika dan Eropa.

Ditambah keadaan suhu politik domestik yang akan menghangat menjelang Pemilu 2024. Namun, Anton menyebut secara fundamental Indonesia sendiri sangat baik.  

“BSI cukup yakin bisnis wealth management akan tetap tumbuh pada tahun 2023. Untuk tren tahun 2023, pada sektor money market tahun ini akan diwarnai dengan imbal hasil deposito yang tinggi dibandingkan tahun lalu,” ujar Anton kepada Kontan.co.id pada pekan lalu.  

Lanjut ia, pada sektor fixed income, dimana kinerja sukuk yang terpuruk tahun lalu diprediksi akan membaik pada tahun ini. Mengingat ekspektasi suku bunga BI tidak akan naik seagresif tahun lalu ditambah investor asing juga mulai masuk lagi.

Baca Juga: Naik 11%, BI Catat Penyaluran Kredit Capai Rp 6.387,0 Triliun pada Desember 2022

Sedangkan pada pasar saham di tahun 2023 perlu lebih selektif mengingat adanya risiko resesi di negara ekonomi besar.  

“Pergeseran portofolio secara besar-besaran kemungkinan kecil terjadi, namun BSI akan mengarahkan nasabah untuk melakukan penyesuaian portofolio sesuai dengan kondisi pasar terkini sehingga diharapkan nasabah mendapatkan imbal hasil yang optimal,” Ucap Anton.

Pada tahun 2022, nasabah prioritas BSI mengalami pertumbuhan sebesar 25,77% secara year to date (YtD) dengan total aset mengalami pertumbuhan sebesar 18,86%.  

“Proyeksi bisnis wealth management di 2023 diharapkan dapat tumbuh 30% dari tahun sebelumnya. Adapun strategi yang dilakukan BSI adalah melalui strategi intensifikasi dan ekstensifikasi dana kelolaan serta peningkatan kompetensi dan produktivitas para tenaga pemasar,” tutup Anton.

Selanjutnya: Harga Minyak Mentah Turun US$2 per Barel, Dipicu Kegelisahan Ekonomi dan Stok AS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru