Reporter: Vina Elvira | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Implementasi mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dinilai akan mendorong kenaikan permintaan domestik minyak sawit atau crude palm oil (CPO).
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan, dari sisi pasokan, produksi CPO nasional saat ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, termasuk tambahan kebutuhan akibat program B50.
Produksi CPO Indonesia saat ini mencapai sekitar 51 juta ton per tahun. Sementara itu, total kebutuhan domestik pada 2025 mencapai sekitar 23 juta ton, terdiri dari 10 juta ton untuk pangan dan 13 juta ton untuk biodiesel.
Dengan diberlakukannya B50, kebutuhan biodiesel diperkirakan akan meningkat signifikan.
“Kalau akan diimplementasikan B50 maka penambahan kebutuhan biodiesel sekitar 3 juta ton, jadi kebutuhan satu tahun untuk B50 sekitar 16 juta ton,” ungkap Eddy kepada Kontan.co.id, Selasa (28/4).
GAPKI menilai tambahan kebutuhan tersebut masih bisa dipenuhi dari produksi nasional. Namun, Eddy mengingatkan situasi ini perlu dicermati apabila produksi CPO tidak meningkat, sementara permintaan ekspor terus bertambah.
Menurutnya, jika produksi CPO stagnan seperti kondisi saat ini dan ekspor meningkat, Indonesia berpotensi menghadapi keterbatasan pasokan untuk memenuhi seluruh kebutuhan pasar.
Baca Juga: Naik Hampir Rp 2 Juta, Harga PS5 Di Indonesia Termurah Jadi Rp 5 Jutaan
“Kalau produksi stagnan dan ekspor meningkat, ada kemungkinan kita tidak dapat memenuhi semuanya. Tetapi kebutuhan dalam negeri bagaimanapun juga harus dipenuhi terlebih dahulu,” katanya.
Di sisi lain, implementasi B50 juga berpotensi mendorong kenaikan harga CPO. Hal ini dipicu kekhawatiran pasar global atas berkurangnya pasokan sawit untuk ekspor akibat peningkatan konsumsi domestik.
Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi harga CPO. Namun, Eddy menekankan agar harga tidak terlalu tinggi dibandingkan minyak nabati lain karena dapat menekan daya saing ekspor Indonesia.
Jika harga CPO terlalu mahal, negara importir berpotensi beralih menggunakan minyak nabati substitusi sehingga ekspor Indonesia bisa melemah.
Eddy mencontohkan kondisi serupa sempat terjadi pada 2024, ketika harga minyak sawit sepanjang tahun berada di atas harga minyak nabati lain, yang pada akhirnya membuat ekspor Indonesia mengalami penurunan.
Tonton: Pasar Karbon Bakal Beroperasi Juni 2026, Pengamat Sorot Harga Karbon Domestik
Untuk meningkatkan produksi, GAPKI menilai langkah yang paling memungkinkan saat ini adalah melalui intensifikasi, terutama lewat program peremajaan tanaman sawit.
“Untuk peningkatan produksi kondisi saat ini paling memungkinkan dengan intensifikasi seperti peremajaan tanaman, yang lambat adalah peremajaan sawit rakyat (PSR),” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













