BI: Inflasi Pangan Harus di Bawah 5%

Kamis, 15 September 2022 | 06:00 WIB   Reporter: Dendi Siswanto
BI: Inflasi Pangan Harus di Bawah 5%


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Agustus 2022 mencapai 4,69% secara tahunan alias year on year (YoY), atau mengalami perlambatan jika dibandingkan pada Juli 2022 yang mencapai 4,94% YoY. 

Adapun inflasi komponen harga pangan bergejolak atau volatile food mencapai 8,93% YoY pada Agustus 2022. Angka ini juga lebih rendah dibandingkan Juli 2022 yang tercatat sangat tinggi yaitu mencapai 11,47%.

Meski begitu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan bahwa inflasi pangan harus bisa diturunkan di bawah 5%. Hal ini dikarenakan apabila tidak dikendalikan maka inflasi dapat menggerus daya beli masyarakat dan pada akhirnya menurunkan kesejahteraan masyarakat.

"Masih tinggi (Posisi Agustus), inflasi harga pangan bergejolak mestinya harus turun di bawah 5%," ujar Perry dalam Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah Pengendalian Inflasi Tahun 2022, Rabu (14/9).

Baca Juga: Bos BI Was-Was Dampak Rambatan Kenaikan Tarif Transportasi ke Inflasi

Oleh karena itu, upaya dan kerjasama antara semua pihak sangat diperlukan untuk mengendalikan inflasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Perry bilang, meningkatnya inflasi juga didorong oleh kenaikan harga yang diatur oleh pemerintah atau administered price. Pasalnya, belum lama pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Sehingga kenaikan BBM tersebut juga akan merambat dampaknya kepada naiknya tarif angkutan umum.

Sehingga apabila dampak rembetan kepada tarif angkutan bisa dikendalikan, menurut Perry, maka dampak terhadap harga pangan juga bisa dikendalikan dan ikut mempengaruhi daya beli masyarakat.

"Agar inflasi daya beli yang 3% itu tidak ikut merambat naik. Inilah yang harus kita patahkan dengan bersinergi dan bergotong-royong bersama-sama, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak lainnya," kata Perry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru