Ekonomi

Begini persoalan di industri perfilman Indonesia

Kamis, 19 November 2020 | 20:30 WIB   Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Begini persoalan di industri perfilman Indonesia


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perfilman Indonesia masih menantikan investor-investor baru untuk terlibat. Hal tersebut berkaca masih sulitnya mencari pendanaan.

CEO & Founder Visinema Pictures Angga Dwimas Sasongko menyebutkan pada awal membangun rumah produksi sulit untuk mendapatkan akses permodalan. Menurutnya, investor akan melihat track record, entitas atau perusahaan tersebut accountable dan good governance.

"Makanya selama 12 tahun ini kami membangun reputasi dan integritas karena modal utama dari mencari investor bukan sekedar proposal yang bagus atau model bisnis yang keren," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Rabu (18/11).

Oleh sebab itu, Angga mengungkapkan keberhasilan menarik investor terhadap proyek filmnya juga melalui penerapan standar operasional yang sama, baik film besar maupun film kecil. "Itu yang mungkin dilihat oleh para investor sehingga mereka tertarik masuk ke dalam project Visinema," katanya.

Selain itu, dirinya bilang bahwa sebetulnya investor bukan soal uang saja melainkan investasi untuk pendekatan strategik. Angga mencontohkan kerjasama yang terjalin antara Visinema Pictures dan Jagartha Advisors yang mana bukan karena sekedar adanya investasi dari Jagartha di film yang diproduksi Visinema.

"Partnership ini ikhtiar kami untuk membuat investasi terhadap film ini jauh lebih inklusif sehingga suatu hari harapannya perfilaman Indonesia jauh lebih familiar terhadap investasi sehingga investor ritel tertarik masuk ke film," ujarnya.

Baca Juga: Visinema Pictures bersiap rilis 5 film pada tahun 2021

CEO Jagartha Advisors FX Iwan melanjutkan bahwa sebetulnya dengan perkembangan era teknologi faktor risiko di industri perfilman dapat diminimalisir. Menurutnya, industri film bukan hanya soal melihat industri kreatif atau konten, tetapi juga melihat industri turunannya yang terkorelasi secara langsung maupun tidak langsung.

"Salah satunya, shifting advertisement karena enggagement jauh lebih tinggi, pesan yang ingin disampaikan lebih mengena, dan secara cost lebih terjangkau. Di satu sisi, bagi industri film dan investor ini jadi salah satu tool untuk mitigasi risiko yang sangat baik karen jadi sumber pendapatan lain yang bisa berkontribusi cukup baik," paparnya.

Iwan juga bilang, sebetulnya OJK sendiri telah berupaya mengakomodir melalui inovasi keuangan digital melalui project financing. Sayangnya, saat ini baru ada 5 perusahaan saja yang tercatat di inovasi keuangan digital pada klaster project financing.

"Padahal untuk mendukung industri yang begitu besar ini butuh banyak pemain. Apabila dilakukan industri ini akan tumbuh secara sehat dari sisi akses permodalan," tandasnya.

Selanjutnya: Ini deretan film yang tayang di bioskop CGV sepanjang pekan ini

 

Editor: Handoyo .


Terbaru