kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.800.000   35.000   1,27%
  • USD/IDR 17.668   -8,00   -0,05%
  • IDX 6.095   -223,56   -3,54%
  • KOMPAS100 805   -27,79   -3,34%
  • LQ45 616   -14,28   -2,26%
  • ISSI 214   -11,19   -4,97%
  • IDX30 352   -8,00   -2,22%
  • IDXHIDIV20 439   -9,68   -2,16%
  • IDX80 93   -3,02   -3,15%
  • IDXV30 121   -3,14   -2,53%
  • IDXQ30 115   -2,35   -2,00%

Begini pengaruhnya bisnis Adaro Energy (ADRO) terkait harga minyak dunia yang naik


Jumat, 26 Februari 2021 / 10:50 WIB

Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren kenaikan harga minyak global turut mempengaruhi kelangsungan bisnis perusahaan yang bergerak di sektor tambang batubara, tak terkecuali PT Adaro Energy Tbk (ADRO).

Sebagai catatan, harga minyak dunia West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman April 2020 di New York Mercantile Exchange (Nymex) sudah menyentuh level US$ 63,72 per barel hingga Kamis (25/2) pukul 16.15 WIB atau naik 0,79% dari hari sebelumnya. Setali tiga uang, harga minyak Brent di ICE Futures untuk kontrak pengiriman April 2021 naik 0,87% ke level US$ 67,62 per barel.

Head of Corporate Communication Adaro Energy Febriati Nadira mengaku, kenaikan harga minyak dunia tentu akan mempengaruhi biaya bahan bakar yang dibutuhkan ADRO. Alhasil, ujung-ujungnya sentimen tersebut berpotensi meningkatkan beban yang ditanggung perusahaan ini. “Komponen bahan bakar sekitar 25%--30% dari total cost kami,” ujar dia kepada Kontan, Kamis (25/2).

Baca Juga: Harga jual batubara naik, Adaro Energy (ADRO) dinilai paling diuntungkan

Dia menambahkan, untuk mengantisipasi efek kenaikan harga minyak tersebut, ADRO akan terus berupaya memaksimalkan keunggulan operasional bisnis inti, meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasi, serta menjaga kas dan mempertahankan posisi keuangan yang solid di tengah berbagai tantangan yang terjadi saat ini.

Ke depan, ADRO tentu akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia di pasar sembari terus menjalankan kegiatan operasional bisnisnya sesuai rencana.

“Kami akan terus mengikuti perkembangan pasar dengan tetap menjalankan kegiatan operasi sesuai rencana di tambang-tambang milik perusahaan dengan tetap berfokus untuk mempertahankan marjin yang sehat dan keberlanjutan pasokan ke pelanggan,” pungkas dia.

Sekadar informasi, belum lama ini ADRO mengumumkan realisasi produksi batubara di tahun lalu yang tercatat sebesar 54,53 juta ton atau turun 6% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, realisasi ini sedikit di atas panduan operasional yang ditetapkan ADRO di kisaran 52 juta ton—54 juta ton.

Selanjutnya: Begini tanggapan ADRO soal PP Cipta Kerja beri royalti 0% untuk hilirisasi batubara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

×