BCA (BBCA) Pimpin Deretan Bank Jumbo Pemberi Untung Terbesar Bagi Pemegang Saham

Kamis, 22 September 2022 | 06:15 WIB   Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
BCA (BBCA) Pimpin Deretan Bank Jumbo Pemberi Untung Terbesar Bagi Pemegang Saham


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingkat profitabilitas perbankan semakin mengalami peningkatan. Kemampuan mereka memberikan keuntungan bagi para pemegang sahamnya naik cukup tinggi yang tercermin dari rasio return on equity (RoE) yang dicatatkan. 

Dari jajaran bank-bank besar, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) tampil menorehkan rasio RoE tertinggi per Juni 2022, yakni mencapai 19,6%. Itu naik 3% dari periode yang sama tahun lalu yang hanya tercatat 16,6%. Lalu diikuti oleh PT Bank Mandiri Tbk dengan RoE 18,5%, naik dari 17,7% pada Juni tahun lalu. 

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menghasilkan RoE 17,48% secara konsolidasi, naik cukup tinggi dari posisi semester I tahun lalu yang hanya mencapai 10,98%. Begitupun dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), berhasil menorehkan peningkatan cukup besar dari 8,9% menjadi 15,1%.

Adapun RoE Bank CIMB Niaga naik dari 11,3% menjadi 12,8%, Bank Danamon Indonesia meningkat dari 5,2% ke level 8,7%,  dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) tumbuh dari 11,2% menjadi 16,26%. 

Baca Juga: Bank BSI (BRIS) Beli Gedung Wisma Antara Senilai Rp 755 Miliar

BRI memiliki target bisa menghasilkan RoE di atas 19% pada tahun 2025. Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, hampir semua rasio keuangan perseroan sangat bagus saat ini, terutama dari sisi permodalan dimana Capital Adequacy Ratio (CAR) perseroan mencapai 25%. Sementara bank yang sehat sebetulnya sudah cukup dengan hanya memiliki CAR 17,5%. 

"Jadi tantangan BRI saat ini tinggal bagaimana mengoptimalkan RoE, me-leverage modal menjadi sumber pertumbuhan baru. Tahun ini, kami optimis laba bisa tembus Rp 40 triliun. Dengan tantangan saya meningkatkan RoE, berapa pun laba BRI dalam dua tiga tahun ke depan, tidak ada alasan untuk ditahan sebagai laba di tahan," kata Sunarso baru-baru ini. 

Ia menambahkan CAR perseroan masih sangat kuat bahkan setelah memperhitungkan potensi pertumbuhan bisnis ke hingga empat tahun ke depan. Sementara untuk tumbuh, perseroan sudah punya sumber pertumbuhan baru yakni holding ultra mikro. 

Dengan modal yang cukup kuat tersebut, Sunarso mengatakan BRI sangat siap memberikan dividen di atas 70% hingga empat tahun ke depan. 

Adapun Bank Mandiri menargetkan RoE tahun ini sebesar 16,5%, lalu 17,7% pada 2023 dan 18,5% pada 2024. Namun, bank ini sudah menghasilkan RoE sebesar 16,4% per Juni 2022, naik dari 12,42% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Darmawan Junaidi, Direktur Utama Bank Mandiri, mengatakan pihaknya akan terus menjaga profitabilitas dengan mengoptimalkan value chain dari debitur whoesales yang dimiliki perseroan dan mendukung regional champion di masing-masing kawasan regional Bank Mandiri. 

"Kami juga akan mengoptimalkan ekosistem Bank Mandiri dengan memanfaatkan channel digital yang sudah dimiliki seperti Livin dan Kopra," kata Darmawan.

Baca Juga: BTN Proyeksikan Pertumbuhan Kredit Perumahan pada 2023 Lebih Tinggi

Sementara BNI menargetkan bisa menghasilkan RoE di atas 18% pada tahun 2025. Untuk mencapainya, Novita Anggraini Direktur Keuangan BNI, mengatakan perseroan akan fokus melakukan perbaikan kualitas portofolio kredit dengan melakukan diversifikasi dan selektif dalam melakukan pemberian kredit. Dengan begitu, kualitas aset BNI terjaga secara berkelanjutan. 

BNI berkomitmen untuk menurunkan biaya kredit atau cost of credit (CoC)  di kisaran 1% pada tahun 2025 untuk mencapai target RoE tersebut. Per Juni 2022, CoC perseroan masih tercatat 1,9%. Adapun kredit ditargetkan bisa tumbuh di atas 10% setiap tahunnya.

"Kami juga fokus pada cross seling dan pada strategi kami untuk menjadi transactional banking, menjadi preferensi pertama bagi nasabah kami, sehingga ini tentunya juga akan mendorong potensi fee based income (FBI) BNI," kata Novita.

Oleh sebab itu, ia melihat fee based income juga akan lebih didorong oleh transaksi-transaksi nasabah. Tidak hanya bergantung pada transaksi account maintenance, tetapi juga pada fee yang sifatnya sindikasi, advisory, dan investment.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru