Bank Memilih Terbitkan Obligasi sebagai Opsi Pendanaan di 2022, Berikut Alasannya

Jumat, 15 Juli 2022 | 05:30 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
Bank Memilih Terbitkan Obligasi sebagai Opsi Pendanaan di 2022, Berikut Alasannya


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Likuiditas perbankan masih longgar di tengah permintaan kredit yang masih terkontraksi, imbas pandemi Covid-19. Meski begitu, perbankan masih memilih menerbitkan surat utang sebagai salah satu bentuk pendanaan di luar himpunan dana pihak ketiga (DPK). 

Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana menyatakan terdapat dua alasan bagi bank dalam merilis obligasi. Pertama, bagi bank kecil hingga menengah relatif memiliki likuditas yang terbatas sehingga obligasi menjadi solusinya selain berebut DPK. 

Kedua, kelompok bank besar semakin gemar merilis surat utang keuangan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan alias green bond meski memiliki likuiditas yang cukup longgar. Lantaran penerbitan green bond bakal mendapatkan insentif giro wajib minimum (GWM) sehingga penyaluran kredit bisa lebih tinggi lagi. Ini sesuai Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 24/5/PBI/2022.

“Penerbitan obligasi oleh perbankan bisa digunakan untuk tambahan cadangan modal maupun untuk ekspansi kredit. Juga ada beberapa investor meminta untuk diterbitkan suatu obligasi, namun balik lagi kebutuhan dari issuernya,” papar Fikri kepada Kontan.co.id, Kamis (14/7).

Baca Juga: BTN Sekuriti Aset KPR Rp 2 Triliun, Bisa Jadi Alternatif Investasi Investor

Menurut Fikri, biaya penerbitan obligasi konvensional dengan green bond relatif tidak akan berbeda secara signifikan. Seiring itu, kenaikan suku bunga The Fed akan dimanfaatkan oleh perusahaan termasuk perbankan dalam merilis obligasi. 

Sebab, saat suku bunga rendah bank bisa menawarkan kupon yang relatif rendah dibandingkan melakukannya di saat kenaikan suku bunga acuan. Kenaikan suku bunga acuan dalam jangka waktu singkat juga akan banyak mempengaruhi kupon obligasi berjangka waktu pendek. 

Wakil Direktur Utama Bank BTN Nixon LP Napitupulu menyatakan BTN terus mengurangi obligasi dengan kupon tinggi. Hal ini dilakukan agar bisa memberikan kredit dengan bunga yang lebih kompetitif. 

“Dulu BTN memang merilis obligasi jangka panjang dan mahal. Ini telah kami kurangi dengan mendorong dana murah dan berkelanjutan. Kami juga merilis obligasi dengan nomimal yang sedikit, tiba-tiba berhenti juga tidak bisa, nanti pasarnya ribut,” tutur Nixon. 

Nixon mengakui BTN sempat memiliki obligasi dengan kupon relatif tinggi hingga Rp 50 triliun. Pendanaan ini terus dikurangi hingga tersisa Rp 38 triliun. Nixon menyebut idealnya dana mahal ini hanya 5% dari total pendanaan. 

“Namun juga tidak bisa tidak punya sama sekali. Karena kita harus punya instrumen juga. Tahun ini, kita targetkan himpunan dana murah bisa 45% dari total DPK,” tambah Nixon. 

Baca Juga: Menakar Untung Rugi Investasi di Instrumen Efek Beragun Aset KPR Perbankan

Sedangkan Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldy mengakui likuiditas masih cukup longgar dalam menopang pertumbuhan kredit maupun memenuhi kewajiban jangka pendek. Namun demikian surat utang yg baru saja diterbitkan senilai Rp 1 triliun adalah merupakan obligasi subordinasi. 

“Sehingga selain membantu pemenuhan rasio stable fund juga sekaligus menambah rasio permodalan karena diperhitungkan dalam modal tier 2,” katanya kepada Kontan.co.id. 

Bank Bjb akan mengejar pertumbuhan DPK di kisaran 9% hingga 10% hingga akhir tahun. Seiring dengan itu, bank juga akan mengejar pertumbuhan kredit di kisaran 9% hingga 10%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru