Bakal Beri Efek Negatif, Buruh Tolak Rencana Kenaikan Harga BBM Subsidi

Jumat, 26 Agustus 2022 | 05:25 WIB   Reporter: Vendy Yhulia Susanto
Bakal Beri Efek Negatif, Buruh Tolak Rencana Kenaikan Harga BBM Subsidi


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak keras rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) termasuk gas 3 kilogram (Kg). Sebab, kenaikan harga BBM akan menimbulkan efek domino negatif bagi masyarakat.

Presiden KSPI Said Iqbal mengungkapkan beberapa alasan mengapa pihaknya menolak kenaikan BBM. Pertama, kenaikan BBM akan meningkatkan inflasi secara tajam. Dia memprediksi, inflasi bisa tembus di angka 6,5% dan akan berdampak pada daya beli rakyat kecil yang kian terpuruk.

"Khususnya buruh pabrik yang selama 3 tahun tidak naik sudah menyebabkan daya beli turun 30%. Kalau BBM naik, bisa-bisa daya beli mereka turun hingga 50%," ujar Said Iqbal, Kamis (25/8).

Kedua, tingkat upah di kalangan buruh yang tidak naik juga akan berdampak pada banyaknya PHK akibat kenaikan harga barang. Hal ini, karena, perusahaan juga akan melakukan efisiensi akibat biaya energi yang meningkat.

Baca Juga: PKS Ingatkan Kenaikan Harga BBM akan Timbulkan Efek Domino Negatif

Ketiga, tidak tepat membandingkan harga BBM di suatu negara dengan tidak melihat income per kapita. Misalnya, jika harga Pertalite di Indonesia dinaikkan menjadi Rp 10.000 per liter dan dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) yang sekitar Rp 20.000 per liter atau Singapura yang sekitar Rp 30.000 per liter, maka harga Pertalite di Indonesia terlihat rendah.

“Kalau melihat income per kapita, di Singapura sudah di atas 10 kali lipat dibandingkan dengan Indonesia. Jadi perbandingannya tidak apple to apple. Tidak tepat membandingkan harga BBM, tetapi tidak melihat kemampuan daya beli masyarakat,” jelas Iqbal.

Keempat, kalau arahnya adalah untuk menuju energi terbarukan, itu hanya akal-akalan. Sebab, BUMN dan perusahaan-perusahaan besar masih menggunakan energi fosil, batubara, diesel, hingga solar. Alasan ini pun dinilai hanya akal-akalan saja.

Kelima, saat ini premium sudah hilang di pasaran, kecuali daerah tertentu. Jadi jangan berdalih, ketika pertalite naik, masyarakat bisa menggunakan premium. Karena saat ini pertalite banyak digunakan masyarakat bawah. Setidaknya ada 120 juta pengguna motor di Indonesia.

Baca Juga: Apa Dampak Jika Indonesia Ngotot Ingin Beli Minyak Mentah dari Rusia?

Iqbal yang juga Presiden Partai Buruh menyarankan, agar ada pemisahan antara pengguna BBM yang bersubsidi dengan tidak bersubsidi. Misal, sepeda motor, angkutan umum, dan kendaraan publik yang lain, BBM nya tidak ada kenaikan.

Sedangkan untuk mobil, menggunakan tahun pembuatan. Misalnya yang diproduksi tahun 2005 ke bawah, tidak mengalami kenaikan harga BBM.

“Selain itu, sebelum energi terbarukan siap beroperasi, sepanjang itu pula harga BBM tidak perlu dinaikkan,” pungkas Iqbal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru