kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

AS: Kami dukung Asia Tenggara dalam menghadapi tekanan China di Laut China Selatan


Kamis, 28 Januari 2021 / 19:20 WIB

Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) yang baru Antony Blinken menegaskan kembali komitmen AS untuk selalu ada di sisi negara-negara Asia Tenggara untuk menghadapi tekanan China.

Dilaporkan oleh Reuters, Blinken menyatakan, AS tetap menolak klaim maritim China di Laut China Selatan karena bertentangan dengan hukum internasional.

Blinken menyampaikan komitmennya tersebut dalam panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin pada Rabu (27/1)..

"Menteri Blinken berjanji untuk mendukung Asia Tenggara dalam menghadapi tekanan dari China," ungkap Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataannya.

Klaim maritim China atas sejumlah titik di Laut China Selatan telah menjadi sorotan dunia sejak lama. Banyak negara di kawasan Asia Tenggara kini mesti bersinggungan langsung dengan China. Sebut saja Filipina, Brunei, Vietnam, Malaysia, dan Taiwan.

Baca Juga: Joe Biden disebut akan meluncurkan kelompok sekutu super untuk menekan China

Perairan Laut China Selatan yang kaya energi serta merupakan jalur perdagangan utama bagi banyak negara membuat China semakin berambisi menguasai banyak wilayah.

"Blinken menggarisbawahi, Amerika Serikat menolak klaim maritim China di Laut China Selatan sejauh klaim tersebut melebihi zona maritim yang diizinkan untuk diklaim China berdasarkan hukum internasional," sebut Departemen Luar Negeri AS.

Hubungan AS dan China semakin buruk sejak Donald Trump menjabat sebagai Presiden. Trump kerap kali menyerang China terkait pandemi, kebijakan hukum di Hong Kong, perdagangan, hingga perlakuan China terhadap minoritas Muslim.

Dua pekan lalu, beberapa waktu sebelum Trump lengser, ia masih sempat menjatuhkan sanksi kepada pejabat dan perusahaan China atas dugaan kesalahan di Laut China Selatan.

Selanjutnya: AS kembali terbangkan pesawat bomber B-52 ke Timur Tengah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

×