kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45981,95   -5,95   -0.60%
  • EMAS1.164.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

ARPI: End Users Menunda Instalasi, Industri Rantai Pendingin Naik Tipis 9% di 2021


Selasa, 04 Januari 2022 / 07:05 WIB
ARPI: End Users Menunda Instalasi, Industri Rantai Pendingin Naik Tipis 9% di 2021

Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) melaporkan jika sepanjang tahun 2021, industri rantai pendingin atau cold chain mulai kembali menggeliat dan tumbuh walaupun masih belum menyamai pertumbuhan di masa sebelum pandemi Covid-19.

"Dibanding tahun sebelumnya, 2020 di era awal pandemi, industri cold chain di 2021 mulai menggeliat dan dapat tumbuh signifikan secara tahunan walau belum dapat kembali seperti di tahun-tahun sebelum pandemi," tutur Hasanudin Yasni, Ketua Umum ARPI dalam keterangan yang diterima Kontan.co.id, Senin (3/1).

Ia menjabarkan, instalasi gudang berpendingin (temperature control storage) naik tipis sebesar 9% dari tahun sebelumnya menjadi 107.500 ribu ton yang ditopang oleh para pemain menengah atas (mid-up 3PL).

Baca Juga: ARPI terus siapkan fasilitas rantai pendingin untuk vaksinasi booster di 2022

Nilai pertumbuhan ini di bawah dari prediksi sebelumnya yang dapat mencapai 30%, ini disebabkan sebanyak 20% dari end users menunda instalasi ke tahun 2022 ini.

Berbeda halnya dengan refrigerated vehicles untuk pendistribusian makanan beku (frozen food) (mulai dari kendaraan roda dua yang dilengkapi dengan temperature insulated box hingga ke truk trongton) instalasi meningkat tajam 72% menjadi 1.148 unit yang permintaannya ditopang juga oleh para pemain mid-up 3PL, vaccine distribution, layanan pesan antar makanan, market place, dan alat pengolah makanan.

Lebih lanjut, alat pendingin atau refrigerated vehicle berukuran mid-down (50 kg sd 2.000 kg) menjadi tren ke depan dalam menyiasati kepadatan lalu lintas.

"Kesadaran akan pentingnya digitalisasi pergerakan pengiriman produk mamin dan farmasi, mendongkrak pertumbuhan industri GPS Provider hingga 90%," sambung Yasni.

Ia menambahkan, berbicara tentang industri rantai pendingin juga perlu menyediakan infrastrukturnya dari hulu ke hilir, terutama untuk area di luar pulau Jawa dan area terpencil atau remote.

Yasni berpendapat, biaya logistik terhadap PDB akan sulit turun jika di area produksi (Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan) belum tersedia dengan baik cold chainnya.

Baca Juga: ARPI: Tahun 2025, nilai pasar frozen food bisa mencapai Rp 200 triliun

Hal ini, terlihat dari pendistribusian vaksin yang memerlukan gudang berpendingin (temperature controlled storage) masih mengalami kehilangan (losses) mencapai 15% di wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Sementara untuk makanan beku, rerata mencapai 40%.

"Karena itulah, kata kunci kolaborasi antar stakeholders cold chain sangat dibutuhkan. Pemain besar cold chain logistics, seperti 3 PL (third party logistics) membutuhkan 'kepanjangan tangan' dalam mendistribusikan produk segarnya secara B to C agar bisnis end to end, di industri cold chain dapat berjalan baik," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×