kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.910   28,00   0,17%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Antonio Guterres ingin kembali menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBB?


Senin, 11 Januari 2021 / 21:20 WIB
Antonio Guterres ingin kembali menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBB?

Sumber: Bloomberg | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dikabarkan telah menyampaikan keinginannya untuk meneruskan jabatannya untuk periode yang kedua.

Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg pada Minggu (10/1), mengutip dua diplomat yang mengetahui masalah tersebut. Guterres telah berbicara dengan perwakilan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Setelah ini, Guterres mungkin akan segera secara resmi memberi tahu Presiden Majelis Umum PBB terkait keinginannya tersebut.

Guterres yang kini berusia 71 tahun resmi menduduki jabatan sebagai Sekjen PBB ke-9 pada Januari 2017 untuk lima tahun masa jabatan dan akhir berakhir pada 2021.

Dia disebut sedang menunggu hasil resmi Pemilihan Presiden AS pada November lalu, sebelum menyampaikan niatnya secara resmi kepada Dewan Keamanan PBB.

Baca Juga: Kado akhir tahun, DK PBB sahkan resolusi penanggulangan terorisme prakarsa Indonesia

Joe Biden diagendakan melaksanakan pelantikan sebagai Presiden AS pada 20 Januari mendatang. Setelah itu, Guterres mungkin akan mulai menunjukkan niatnya secara terbuka.

Hubungan PBB dan AS tidak berjalan terlalu harmonis sejak Donald Trump mulai bekerja di Gedung Putih. Beberapa keputusan Trump seringkali bertentangan dengan PBB, meskipun AS berstatus sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Di bawah Pemerintahan Trump, AS keluar dari WHO. AS bahkan menilai WHO sebagai organisasi yang korup dan bergabung dalam program COVAX untuk penyediaan vaksin Covid-19 ke negara-negara berpenghasilan rendah.

AS juga membuat anggota Dewan Keamanan PBB gerah karena menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran serta keluar dari kesepakatan iklim Paris Agreement.

Selanjutnya: Setelah 2 tahun, Dewan Keamanan PBB bahas lagi pelanggaran HAM di Korea Utara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

×