Anggaran BI Diprediksi Defisit Pada Tahun 2023, Ini Penyebabnya

Rabu, 23 November 2022 | 06:50 WIB   Reporter: Bidara Pink
Anggaran BI Diprediksi Defisit Pada Tahun 2023, Ini Penyebabnya


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) berupaya membawa nilai tukar rupiah pada tahun 2023 untuk berada di titik tengah sasaran, yaitu di level Rp 15.070 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, upaya tersebut sangat menguras tenaga BI. Butuh upaya ekstra dan bahkan BI harus merogoh kocek yang dalam untuk ini. 

“Untuk membawa rupiah setidaknya ke titik tengah sasaran, ini butuh ekstra effort. Kami luar biasa melakukan intervensi dan menggunakan cadangan devisa. Tentu ini akan berpengaruh pada anggaran BI,” tutur Perry di hadapan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Senin (21/11). 

Baca Juga: Rupiah Jisdor Melemah 0,06% ke Rp 15.716 Per Dolar AS Pada Selasa (22/11)

Sehubungan dengan ini, Perry memperkirakan anggaran tahunan BI (ATBI) 2023 akan mengalami defisit Rp 19,99 triliun. Defisit tersebut terutama berasal dari defisit anggaran kebijakan yang dipatok Rp 33,15 triliun. 

Anggaran kebijakan inilah yang digunakan BI untuk melakukan stabilitas. 

“Di anggaran kebijakan, langkah-langkah kami untuk stabilitas kenaikan suku bunga acuan maupun langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah,” tambahnya. 

Sejauh ini, Perry telah menggunakan cadangan devisa untuk melakukan intervensi pelemahan nilai tukar rupiah karena ketidakpastian di pasar keuangan global. 

Sebagai bantalan pertama pergerakan rupiah, cadangan devisa Indonesia pun terus berkurang. Per akhir Oktober 2022, cadangan devisa Indonesia tersisa US$ 130,2 miliar. 

Baca Juga: Volume Rata-rata Harian Transaksi PUAB Rupiah Capai Rp 15,76 Triliun di Oktober 2022

BI tengah putar otak bagaimana caranya agar cadangan devisa tak terus tergerus. Salah satu upaya yang akan dilakukan oleh BI adalah dengan mengupayakan devisa hasil ekspor (DHE) untuk masuk lebih lama ke dalam negeri. Dalam hal ini, ia mengatakan BI tengah berupaya berdiskusi dengan pihak terkait. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru