Global

Akibat pembatasan impor di Israel, pabrik Pepsi di Gaza tutup

Rabu, 23 Juni 2021 | 02:00 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Akibat pembatasan impor di Israel, pabrik Pepsi di Gaza tutup

KONTAN.CO.ID - GAZA. Perusahaan Pepsi di Gaza terpaksa menghentikan operasinya minggu ini karena pembatasan impor Israel yang diperketat selama konflik 11 hari antara Israel dan militan Palestina.

Mengutip Reuters, gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza sejatinya telah membuat Israel mengizinkan dimulainya kembali ekspor secara terbatas dari wilayah tersebut.

Hanya saja, pihaknya tetap memberlakukan langkah-langkah pengetatan pada impor bahan mentah, termasuk gas karbon dioksida dan sirup yang dibutuhkan pabrik Pepsi untuk memproduksi soda Pepsi, 7UP dan Mirinda.

"Kemarin kami benar-benar kehabisan bahan baku, dan sayangnya kami harus menutup pabrik, memulangkan 250 pekerja," kata pemilik perusahaan Hamam al-Yazeji. 

Baca Juga: Setelah 12 tahun, Benjamin Netanyahu tersingkir dari jabatan Perdana Menteri Israel

COGAT, bagian dari kementerian pertahanan Israel, mengatakan bahwa situasi keamanan menyebabkan impor bahan baku industri dari Negara Israel ke Jalur Gaza tidak mungkin. Mereka mengatakan Israel mengizinkan impor lain ke Gaza, termasuk bahan bakar, makanan, obat-obatan dan peralatan medis.

Asal tahu saja, Israel dan negara tetangga Mesir memang menjaga kontrol ketat atas perbatasan Gaza. Mereka mengatakan pembatasan itu diperlukan untuk menghentikan senjata mencapai Hamas dan mencegahnya diproduksi secara lokal.

Para analis juga memperkirakan penutupan dapat terjadi di pabrik-pabrik Gaza lainnya jika pembatasan Israel dipertahankan. Padahal, menurut data PBB manufaktur membentuk sekitar 10% dari ekonomi di Gaza, 

Pabrik Pepsi Gaza telah beroperasi terus menerus sejak tahun 1961, ketika Perusahaan Minuman Ringan Yazeji yang berbasis di Gaza memperoleh hak untuk memproduksi 7UP dan jenis soda lainnya di daerah kantong tersebut.

Bernilai sekitar US$15 juta, produk pabrik didistribusikan secara lokal. Sebuah cabang terpisah beroperasi di Tepi Barat yang diduduki, bernilai sekitar US$30 juta, yang melayani wilayah tersebut serta Yerusalem Timur.

Selanjutnya: Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendapat dukungan untuk menjabat dua periode

 

Editor: Handoyo .
Terbaru